Ternyata nama mantan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) masuk dalam urutan ke 19 (0,2 persen).

Lembaga Survei Indonesia (LSI) telah merilis survei dengan tajuk "Evaluasi Publik Terhadap Kondisi Nasional dan Peta Awal Pemilu 2024" Senin (22/2/2021). Hasil survei ini harus menjadi pegangan Ketum PDIP Megawati. Apa sebabnya?

Hasil survei LSI kembali membuktikan anak "anak emas PDIP" Puan Maharani tidak laku dijual. Nama ketua DPR itu selalu ada diposisi buncit survei.

Dalam survei LSI itu, salah satu yang disurvei adalah nama-nama calon presiden yang berada di benak masyarakat atau disukai.

Ketika survei menanyakan top of mind atau sejumlah nama yang berada dalam benak masyarakat, dengan pertanyaan, "bila pemilihan presiden didakan sekarang ini, siapa yang akan ibu/bapak pilih?".

Ternyata nama mantan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) masuk dalam urutan ke 19 (0,2 persen), mengalahkan Menteri BUMN Erick Thohir yang berada di urutan ke-20 (0,2 persen)  dan Menko Perekonomian sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto yang berada di urutan ke-24 (0,1 persen). Bahkan, jauh mengalahkan Ketua DPR yang juga politikus PDIP Puan Maharani yang berada di urutan ke 31.

Dan ketika survei menggunakan simulasi terbuka, di mana responden disodorkan sejumlah nama, Rizieq Shihab naik pada urutan ke-17 (0,7 persen). Sedangkan Erick Tohir  berada di urutan 18 (0,6 persen) dan Airlangga Hartarto berada di urutan ke-20 (0,3 persen). Dan Puan Maharani berada di urutan ke-22 (0,1 persen).  

Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan mengatakan survei dilakukan akhir Januari lalu tersebut  dapat membantu kita memberikan gambaran terhadap sejumlah pertanyaan terkait sentimen atau penilaian publik terhadap kondisi nasional saat ini dan juga bagaimanakah peta awal kompetisi politik menuju Pemilu 2024.

Menurut Djayadi, peta awal ini belum menunjukan ada calon yang dominan. 

"Bila undang-undang pemilu tidak diubah,karena tidak ada petahana dalam pilpres 2024, maka ada kemungkinan calon presiden lebih dari dua pasang. Ini berarti seorang calon presiden baru bisa disebut memiliki peluang cukup dominan bila secara konsisten memiliki elektabilitas 40 persen atau lebih," kata Djayadi.