Harga pangan masih tetap terjaga, dan pasokan pangan mencukupi.

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan bahan pangan tetap aman menjelang bulan puasa tahun ini. "[ketersediaan pangan] aman. Sudah dihitung," ujar  Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi dikutip, Selasa (23/2).

Agung pun menyebut saat ini pihaknya sudah memperhitungkan banjir yang terjadi saat ini. Berdasarkan perhitungan tersebut dia menyebut puso yang terjadi sebesar 0,7 persen. Meski begitu, dia menyebut bahwa harga pangan masih tetap terjaga, dan pasokan pangan mencukupi.

"Harga diperkirakan aman, Maret-April panen raya. Cadangan pangan cukup," ujar Agung dikutip Kontan.co.id.

Adapun, berdasarkan data prognosa ketersediaan dan kebutuhan pangan pokok nasional pada Januari-Mei 2021 oleh Kementan, diperkirakan ketersediaan beras sebanyak 25,53 juta ton dan kebutuhan 12,34 juta ton.

Lalu, perkiraan ketersediaan jagung sebanyak 15,02 juta ton dengan perkiraan kebutuhan hingga Mei sebesar 9,94 juta ton. Ketersediaan kedelai sebanyak 1,49 juta ton dengan kebutuhan sebesar 1,3 juta ton.

Perkiraan ketersediaan bawang merah sebesar 462.234 tin dan kebutuhan 416.660 ton, lalu bawang putih diperkirakan tersedia 406.691 ton dengan kebutuhan 243.655 ton. Cabai besar diperkirakan tersedia 496.358 ton dengan kebutuhan 432.129 ton, cabai rawit diperkirakan tersedia 526.174 ton dan kebutuhan 392.747 ton.

Untuk daging sapi/kerbau diperkirakan tersedia 307.524 ton dengan kebutuhan sebesar 294.019 ton, daging ayam ras diperkirakan tersedia 1,77 juta ton  dengan kebutuhan 1,33 juta ton, ketersediaan telur ayam ras sebanyak 2,19 juta ton dan kebutuhan 2,14 juta ton.

Perkiraan ketersediaan gula pasir sebanyak 1,58 juta ton dengan kebutuhan sebesar 1,21 juta ton sementara perkiraan ketersediaan minyak goreng sebanyak 2,67 juta ton dengan kebutuhan sebesar 2,19 juta ton.

Dari berbagai bahan pangan tersebut, ada beberapa bahan pangan yang masih perlu diimpor. Misalnya kedelai, bawang putih, daging sapi/kerbau juga gula pasir. Menurut Agung, impor sudah masuk dalam perencanaan.

"Sudah ada rencana, sementara realisasi bertahap," katanya.