Masih berpeluang semua. Masih berpeluang semua. Kecuali mungkin kalau Pak Ahok

Empat nama kader PDI Perjuangan (PDIP) muncul dalam hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) terkait calon presiden (capres). Nama mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok masuk ke dalam daftar calon presiden 2024.

Ahok berada di urutan keempat dengan persentase 7,2 persen. Ia berada di bawah nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di urutan kedua survei dengan persentase 10,6 persen.

Sementara dua nama lainnya, yakni Menteri Sosial, Tri Rismaharini menempati urutan keenam survei dengan persentase 5,5 persen, dan Ketua DPR RI yang jauh berada di urutan ke-22 survei dengan mengantongi 0,1 persen.

Meski demikian, peneliti LSI, Djayadi Hanan menilai nama-nama tersebut masih memiliki peluang besar untuk maju di Pilpres 2024. Kecuali untuk nama Ahok, Djayadi seperti dikutip detikcom menilai, Ahok agak sulit karena memiliki kasus hukum di masa lalu.

"Masih berpeluang semua. Masih berpeluang semua. Kecuali mungkin kalau Pak Ahok mungkin agak sulit ya karena ya apa namanya karena mungkin pernah mengalami kasus hukum. Mungkin itu akan menjadi batu sandungan gitu, apa, tapi terutama kalau Pak Ganjar, Bu Risma, Bu Puan itu kan, ya semuanya masih berpeluang," kata Djayadi, Selasa (23/2/2021).

Setidaknya, menurut Djayadi, para kader PDIP harus mampu meraup elektabilitas hingga mencapai 50 persen agar aman maju Pilpres 2024. Karena itu, ia menilai keempat nama kader PDIP yang ada dalam survei LSI belum berpeluang besar.

Djayadi pun menilai kinerja dan sosialisasi dari keempat kader PDIP tersebut akan berpengaruh terhadap elektabilitas mereka. Menurutnya, calon yang nantinya memiliki elektabilitas dominan akan dipertimbangkan PDIP untuk maju Pilpres 2024.

"Tergantung apakah mereka mampu bersosialisasi lebih kuat nanti. Kalau ada yang dominan banget, tentukan jadi pertimbangan juga. Tapi kan sekarang belum ada yang dominan gitu," ucapnya.

Djayadi pun mencontohkan Ganjar perlu melakukan sosialisasi lebih gencar dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Kemudian, Risma diminta memanfaatkan momen selama menjabat Mensos di masa pandemi COVID-19.

"Misalnya kalau Pak Ganjar, dia harus mensosialisasi lebih jauh ke masyarakat Indonesia secara lebih luas kan. Nggak hanya di Jawa Tengah, misalnya," ucapnya.

"Atau Ibu Risma mungkin juga dengan posisi dia sebagai Menteri Sosial punya panggung untuk bersosialisasi lebih luas di tingkat nasional. Apalagi di masa pandemi dia punya kesempatan untuk tampil lebih banyak kan karena Mensos menjadi leading sektor dalam program bansos, misalnya," sambungnya.

Melalui hasil survei LSI terkait capres 2024, Djayadi menilai semua potensi calon pasangan Pilpres sangat mungkin terjadi pada 2024. Termasuk mengenai desas-desus pasangan Prabowo Subianto-Puan Maharani maju Pilpres 2024.

"Ya mungkin saja (mereka maju Pilpres 2024) karena kan hampir semua partai perlu berkoalisi dengan partai lain," kata Jayadi.

Namun, Djayadi menilai peta politik Pilpres 2024 masih sangat cair. Menurutnya, calon pasangan untuk Pilpres 2024 masih belum benar-benar bisa dipetakan secara jelas.

"Jadi menurut saya belum bisa menentukan siapa berpasangan dengan siapa sekarang karena petanya masih cair. Karena kalau kita lihat sekarang petanya tuh masih cair. Jadi masih agak terlalu dini untuk menentukan siapa berpasangan dengan siapa," ucapnya.

"Kalaupun dibayangkan akan banyak sekali. Sementara kan dengan UU yang ada sekarang paling banyak pasangan 4, mungkin 3. Sementara kemungkinan pasangannya masih banyak," katanya.

Diketahui sebelumnya, nama Ahok masuk ke dalam daftar calon presiden 2024 dari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) terkait peta Pilpres 2024, Senin (22/2/2021).

Dari hasil survei kategori top mind, nama Basuki masuk ke dalam urutan enam dengan persentase 2,5 persen. Pada kategori tersebut, namanya ada di bawah mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang kini menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.

Namun, apabila survei dilakukan semi-terbuka, yaitu responden disodori 29 nama kandidan calon Presiden, nama Basuki berada di urutan keempat.

Ia mendapatkan persentase 7,2 persen di bawah Gubernur DKI Jakarta saat ini Anies Baswedan yang mendapatkan angka 10,2 persen.

Sementara itu, posisi pertama ditempati Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebesar 22,5 persen, kedua oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebesar 10,6 persen.