Meski belum menunjukkan tren positif, kekuatan cucu Soekarno itu bisa saja menanjak menjelang Pilpres 2024

Peluang Puan Maharani untuk ikut berkontestasi di Pemilihan Presiden 2024 masih menjadi tanda tanya, mengingat sosok Ketua DPR RI itu belum menunjukkan elektabilitas memadai berdasarkan survei beberapa lembaga.

Meski belum menunjukkan tren positif, kekuatan cucu Soekarno itu bisa saja menanjak menjelang Pilpres 2024.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno saat menjadi narasumber dalam serial diskusi daring Tanya Jawab Cak Ulung bertajuk 'Melacak Tokoh Potensial 2024' pada Kamis (25/02/2021).

"Kita tidak bisa terlampau menebak bahwa jangan-jangan memang start politiknya (Puan Maharani) untuk 2024 akan dimulai nanti di 2021-2023, atau dua tahun sebelum pemilihan," kata Adi Prayitno.

"Apalagi ada upaya-upaya untuk mengonversi bahwa pendukungnya Ganjar dan Risma itu 'diarahkan' dukungan politiknya ke Puan Maharani," sambungnya.

Ia menjelaskan, peta politik nasional masih tergantung seberapa rumit dan sehebat apa lawan tandingnya. Sebab, untuk memajukan Puan masih harus melihat siapa yang akan dilawan nanti.

"Kalau lawannya enggak kuat-kuat amat, elektabilitasnya rendah, saya kira Puan akan lebih rasional dan realistis untuk diusung maju. Kenapa? Jalan menangnya jauh lebih terbuka," jelasnya.

Selain itu, meskipun Puan Maharani tidak muncul dalam survei elektabilitas Capres potensial karena dianggap belum memanfaatkan posisinya sebagai Ketua DPR saat ini, bisa saja hal itu berubah seiring berjalannya waktu.

Yang tak kalah penting untuk diperhitungkan adalah banyaknya nama-nama di internal PDIP yang cukup potensial. Meski membuat dilema di internal partai, satu sisi hal itu bisa mnjadi dukungan suara bagi Puan.

"Ada dua figur kunci kepala daerah saat ini dan kebetulan ada Mensos yang pengikutnya sangat luar biasa. Jika didukung dan dikonversi ke suara PDIP, akan berlipat gandalah kekuatan Puan untuk modal bertanding di 2024," pungkasnya.