Karena dampak mudarat dari minuman keras ini pelan namun pasti

Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Achmad Baidowi mengatakan, kegaduhan yang diakibatkan minuman beralkohol (minol). Ia menyinggung kasus penembakan Bripka CS yang terjadi di Cengkareng, Jakarta Barat.

Menurutnya, jika kegaduhan yang diakibatkan minol terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin akan menimbulkan ketidakpercayaan di masyarakat sendiri terhadap pemerintah. 

"Karena dampak mudarat dari minuman keras ini pelan namun pasti akan merusak sendi kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Baidlowi kepada wartawan, Jumat (26/02/2021).

"Oleh karena itu sejak periode dulu Fraksi PPP mengusulkan untuk segera disahkan RUU Larangan Minuman Alkohol. Kami memandang perlunya regulasi ini untuk menghindari kegaduhan dan banyaknya korban nyawa yang diakibatkan oleh miras," jelasnya.

Pria yang akrab disapa Awiek ini mengatakan, rencana pemerintah untuk membuka investasi industri miras perlu dipertimbangkan untuk tidak diberlakukan karena banyak mudaratnya.

Dampak negatifnya, kata Awiek, jauh lebih besar dari sekedar kepetingan profit dan masa depan Indonesia akan terancam kalau sampai industri ini dilegalkan. 

"Tidak hanya itu dampaknya akan semakin parah. Jika saat ini hanya terjadi penembakan oleh oknum polisi kepada TNI AD ataupun tercorengnya nama baik Indonesia akibat meninggalnya warga Jepang setelah minum miras," katanya.

"Bukan tidak mungkin kedepan akan banyak terjadi hilangnya nyawa anak muda kita. Karena berdasarkan data WHO tahun 2016 saja sudah ada 3 juta lebih di dunia meninggal akibat minuman beralkohol," ujar Awiek.

Dia menegaskan data yang disebutkannya itu bukan hanya isapan jempol semata. Tapi nyata dampaknya. Menurutnya, PPP sama sekali tidak anti investasi, namun investasi yang akan didukung adalah investasi yang tidak merusak. 

"Kami juga mengakui adanya kearifan lokal di sejumlah daerah yang membutuhkan miras. Namun sebaiknya pengaturannya terlebih dahulu dalam bentuk UU yang mana di dalamnya juga memberikan pengecualian penggunaan miras untuk kepentingan medis, adat, maupun ritual," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya kasus penembakan terjadi di Kafe RM Cengkareng, Jakarta Barat pada Kamis 25 Februari 2021 pukul 04.30 WIB. Tiga orang dilaporkan tewas.

Kasus ini diduga berawal dari para korban yang cekcok dengan pelaku diduga pelaku yakni anggota polisi itu tak terima tagihan minumnya hingga Rp3,3 juta sehingga tak mau bayar.

Dia lalu cekcok dengan kasir, waiter hingga anggota TNI yang diduga menjadi bagian pengamanan di kafe itu.

Diketahui, CS merupakan anggota Polsek Kalideres. Sementara 3 korban tewas yakni anggota TNI AD atau security RM Cafe atau Kafe RM bernama Sinurat, bar boy bernama Feri, dan kasir RM Kafe bernama Manik. Sedangkan korban luka manajer Kafe RM.