Sejak Februari, Bank Indonesia (BI) pelorotkan suku bunga acuan hingga titik terendah yakni 3,5%. Diharapkan, perbankan segera merespons dengan menurunkan bunga kreditnya.

Tentu saja, tujuannya mulia. Kalau bunga kredit rendah, maka pengusaha lebih tertarik untuk memanfaatkan kredit perbankan sebagai modal usaha. Asumsinya, jika jutaan pengusaha berperilaku seperti itu, maka roda perekonomian berputar cepat. Dan, selamatlah perekonomian Indonesia dari jurang krisis ekonomi yang mendera sejak 2020.

Hanya saja, ketika BI turunkan suku bunga acuan alias BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) hingga 3,5%, perbankan tidak lekas meresponsnya. Artinya, suku bunga kredit masih tinggi, di atas 10%.

Dikutip dari suara.com, berbeda dengan PT Bank Rakyat Indonesia (persero/BRI) Tbk, menurunkan suku bunganya dengan signifikan. Pada akhir Februari, BRI kembali turunkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) untuk seluruh segmen (Korporasi, Ritel, Mikro, KPR dan non-KPR). Angka penurunannya cukup signifikan yakni 150 bps-325 bps.

Penurunan SBDK terbesar diberikan pada kredit konsumer non-KPR sebesar 3,25 persen. Dengan penurunan ini, SBDK non-KPR berubah dari semula 12 persen menjadi 8,75 persen.

Selain itu, BRI juga menurunkan SBDK KPR sebesar 2,65 persen, dari 9,90 persen menjadi 7,25 persen. Penurunan SBDK juga dilakukan untuk segmen mikro sebesar 2,5 persen. Perubahan ini membuat SBDK mikro turun dari 16,50 persen menjadi 14 persen.

Pada kredit segmen korporasi dan ritel, BRI melakukan penurunan SBDK masing-masing sebesar 1,95 persen dan 1,5 persen. Dengan demikian saat ini, SBDK korporasi berubah dari 9,95 persen menjadi 8 persen. Kemudian, SBDK segmen ritel berkurang dari 9,75 persen menjadi 8,25 persen.

Penurunan suku bunga kredit oleh BRI tersebut dilakukan untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional. Sebelumnya, sepanjang tahun 2020 lalu BRI telah menurunkan suku bunganya sebesar 75 bps – 150 bps, bahkan khusus untuk restrukturisasi keringanan suku bunga, BRI menurunkan antara 300 bps – 500 bps.

Direktur Utama BRI, Sunarso mengatakan bahwa kebijakan penurunan suku bunga kredit yang dilakukan BRI ini merupakan bagian dari upaya untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional, seiring berlanjutnya tren penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia.

Lebih lanjut, selain karena tren suku bunga acuan yang terus menurun, penurunan suku bunga kredit BRI dilakukan karena menurunnya beban biaya dana (cost of fund) dan meningkatnya level efisiensi perbankan yang disebabkan berbagai inisiatif digital yang terus dilakukan.

Sunarso menjelaskan, meski telah menurun tetapi perubahan suku bunga kredit bukan menjadi satu-satunya variabel penentu besar/kecilnya permintaan pembiayaan. “Berdasarkan analisa ekonometrika, variabel paling sensitif atau elastisitasnya paling tinggi terhadap pertumbuhan kredit adalah tingkat konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat”, tambah Sunarso.

Melalui langkah ini, BRI terus menunjukkan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam kaitannya mendukung penyaluran berbagai stimulus Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). “Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat. Peningkatan dua hal ini akan berujung pada naiknya permintaan kredit dan membaiknya pertumbuhan ekonomi nasional," pungkas Sunarso.