Para ilmuwan mengatakan, mutasi B117 UK ini, 70 persen lebih menular daripada sebelumnya.

Mutasi virus Corona yang lebih menular, dikenal dengan B117 UK, teridentifikasi di Inggris pada November 2020 lalu. Belakangan negara-negara lain juga telah melaporkan penemuan kasus dari varian baru virus Corona ini seperti Singapura, India, Malaysia, hingga Korea Selatan. Para ilmuwan mengatakan, mutasi B117 UK ini, 70 persen lebih menular daripada sebelumnya.

Selasa (02/03/2021) kemarin, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkap, virus Corona mutasi dari Inggris tersebut telah masuk ke Indonesia. 

"Saya mendapatkan informasi bahwa tepat dalam setahun ini kita menemukan mutasi B117 UK mutation di Indonesia," sebut Wamenkes dalam konferensi pers.

"Ini fresh from the oven, baru tadi malam ditemukan 2 kasus. artinya apa, artinya kita akan menghadapi pandemi ini dengan tingkat kesulitan yang makin berat," katanya.

Dante mengatakan, dengan adanya temuan dua kasus yang terkait dengan mutasi B117 ini, maka Indonesia akan menghadapi pandemi COVID-19 dengan tingkat kesulitan yang semakin berat.

Dia mengatakan, temuan dua kasus mutasi B117 itu ditemukan dari hasil pemeriksaan terhadap 462 sampel menggunakan metode pengurutan genom atau Whole Genome Sequence (WGS), yang telah dilakukan selama beberapa bulan terakhir. "Proses mutasi ini sudah ada di sekitar kita," kata Dante.

Namun berbeda dengan Wamenkes, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Subandrio menyebut varian Corona B117 ini sudah ditemukan beberapa minggu lalu.

"Kasusnya sebenarnya kasus impor yang datang di Indonesia, dan datangnya bukan tadi malam. Datangnya beberapa minggu yang lalu. Karena berbagai prosedur baru terdeteksi ada dua kasus," kata Prof Amin dalam diskusi online di kanal YouTube medcomid.

Menurutnya, dampak ditemukan varian  Corona B117 ini bisa membuat tes COVID-19 PCR lantas menjadi tak begitu sensitif. Hal ini juga sempat diungkap Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro beberapa waktu lalu saat mengantisipasi varian Corona B117.

"Mutasi itu bisa bisa berubah struktur molekulnya, sehingga mungkin menyebabkan diagnostik atau PCR itu kurang sensitif, karena yang dicari gen tertentu. Nah, kalau gen nya berubah karena mutasi maka kita yang tersedia sekarang itu belum mengenal," jelasnya.

"Kami, Kemenristek, dan Litbangkes Kemenkes sudah membentuk satu tim untuk memperkuat dan mencari varian yang baru, tidak hanya yang dari Inggris itu," ucapnya.

Lantas, bagaimana antisipasi pemerintah dalam menghadapi varian Corona B117 yang sudah terlanjur masuk? Juru bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah saat ini langsung melakukan penjagaan di pintu kedatangan dari luar negeri.

"Saat ini pemerintah telah melakukan surveilans kedatangan dari luar negeri untuk mencegah masuknya strain COVID-19 di pintu masuk Indonesia. Selanjutnya merupakan tanggung jawab kita semua untuk tetap mencegah penularan terjadi di tengah masyarakat dengan disiplin melakukan protokol kesehatan," kata Wiku Adisasmito, dalam jumpa pers.

Wiku mengatakan kesiapsiagaan terhadap peluang ancaman ketahanan negara perlu menjadi perhatian utama seluruh lapisan masyarakat. Wiku mengatakan kunci penanganannya adalah gotong royong.

"Saya harap penanganan COVID-19 di Indonesia ke depan dapat semakin meningkat dengan koordinasi terus ditingkatkan antara pusat dan daerah. Keberhasilan penanganan COVID-19 juga tidak terlepas dari peran serta seluruh lapisan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah semakin meluasnya penularan," jelas Wiku.

Lantas di mana pasien kasus mutasi COVID-19 dari Inggris itu? Wiku tidak menjawab secara pasti. Dia hanya membenarkan kasus varian baru Corona Inggris B117 ini sudah masuk RI.

"Betul bahwa varian B117 telah ditemukan di Indonesia sebagaimana disampaikan Bapak Wakil Menteri Kesehatan," katanya.

Wiku memaparkan temuan ini akan ditindaklanjuti segera dilakukan pencegahan dari kasus positif varian baru ini. Petugas sudah dikerahkan di pintu kedatangan untuk melakukan monitoring di lapangan.

"Adanya temuan ini akan ditindaklanjuti dengan penelusuran segera dari kasus positif tersebut untuk mencegah meluasnya penyebaran. Untuk saat ini petugas di pintu kedatangan serta berbagai unsur yang terlibat, termasuk kementerian lembaga terkait, bersama Satgas akan terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap implementasi di lapangan," jelasnya.

"Sebagaimana yang saya sampaikan dalam konferensi pers sebelumnya, saat sosialisasikan penetapan kebijakan pelaku perjalanan internasional, pemerintah akan selalu berusaha adaptif dengan situasi dan kondisi yang ada termasuk perubahan kebijakan jika diperlukan," kata Wiku.