Jumlah kelas menengah dunia akan lebih dari 8,1 miliar jiwa atau 84 persen penduduk dunia. Hal ini merupakan kabar baik bagi Indonesia karena kelas menengah akan memperbaiki daya beli dan konsumsi serta memotori perekonomian dunia

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan, Kementerian Perdagangan mendukung perwujudan visi Indonesia 2045 dengan memberikan kontribusi yang maksimal dari sektor perdagangan. Cita-cita ini sejalan dengan yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

Hal ini disampaikan Mendag saat memberikan arahan pada pertemuan Pra-Rapat Kerja 2021 yang berlangsung secara hybrid hari ini, Rabu, (3/3) di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta. Pertemuan Pra-Rapat Kerja dihadiri sekitar 400 peserta yang tediri atas para Pejabat Eselon 1, Pejabat Eselon 2, serta Perwakilan Perdagangan Luar Negeri (Atdag dan Kepala/wakil Kepala ITPC/Dubes WTO dan KDEI Taipei) serta Pejabat Tingkat Madya dari setiap unit kerja di lingkungan Kementerian Perdagangan.

“Kementerian Perdagangan akan berupaya mewujudkan visi Indonesia 2045 atau 100 tahun Kemerdekaan Indonesia, salah satunya meningkatkan pendapatan per kapita hingga USD 12.000 pada 2040 dengan mendorong sektor perdagangan. Jika berhasil diwujudkan, maka Indonesia dapat keluar dari jebakan masyarakat kelas menengah,” jelas Mendag.

Dalam penjelasannya, Mendag banyak menekankan Indonesia pada Megatren Dunia 2045. Mata uang regional diproyeksikan akan mengambil alih mata uang dunia yang selama ini didominasi dolar Amerika Serikat, Euro, dan Yuan, bahkan mata uang kripto. “Jumlah kelas menengah dunia akan
lebih dari 8,1 miliar jiwa atau 84 persen penduduk dunia. Hal ini merupakan kabar baik bagi Indonesia karena kelas menengah akan memperbaiki daya beli dan konsumsi serta memotori perekonomian dunia,” ujar Mendag.

Selain itu, sektor teknologi bergeser akan ke teknologi informasi dan komunikasi; bioteknologi dan rekayasa genetik; wearable devices; energi terbarukan; otomatisasi; dan kecerdasan buatan (AI). AI, lanjut Mendag, sudah memasuki sektor perdagangan. Dalam niaga elektronik, hal ini dikenal dengan istilah “winner takes all” atau tidak ada lagi persaingan.

Mendag menjelaskan, bonus demografi penduduk usia produktif Indonesia akan selesai pada 2038-2040. Sebelum ini terjadi, peningkatan Produk Domestik Bruto (GDP) harus dilakukan sebagai kunci untuk keluar dari jebakan kelas menengah karena pada saat itu, penduduk lansia akan lebih banyak dibandingkan penduduk usia produktif.

Selain itu, Mendag menekankan agar Kemendag dapat meningkatkan posisi emerging market dengan mendorong konsumsi dan meningkatkan peran ekspor-impor dalam menopang pertumbuhan ekonomi. “Di sinilah pentingnya tugas perwakilan perdagangan di luar negeri yaitu dengan memperkuat kontribusi ekspor dan impor untuk mendorong peningkatan PDB. Salah satunya dengan memfokuskan pada 30 komoditas ekspor utama Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, Mendag juga menyampaikan, di era kolaborasi ini penting untuk membuka pasar karena dapat mendatangkan investasi, yang kemudian menciptakan pusat produksi dan menjadikan ekspor nonmigas sebagai primadona.

Mendag juga mendorong konsumsi untuk memulihkan ekonomi nasional dan menegosiasikan perjanjian-perjanjian dagang yang sophisticated. “Kita sedang beralih dari mengekspor barang mentah dan barang setengah jadi menjadi barang industri dan barang industri berteknologi tinggi. Untuk itu, perlu diciptakan pelaku UMKM yang tangguh untuk mewujudkan perdagangan yang adil dan baik demi Indonesia yang sejahtera,” papar Mendag.

Penyelenggaraan Pra-Rapat Kerja Kementerian Perdagangan ini merupakan persiapan pelaksanaan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan Tahun 2021 yang mengusung tema “Perdagangan Sebagai Sektor Penggerak Utama Pemulihan Ekonomi Nasional”.

“Pra-Rapat Kerja bertujuan sebagai sarana konsolidasi internal Kementerian Perdagangan terutama dengan perwakilan perdagangan luar negeri guna menetapkan target kinerja masing-masing perwakilan perdagangan di negara akreditasi,” jelas Sekretaris Jenderal Suhanto saat menyampaikan laporan pelaksanaan Pra-Raker kepada Mendag.

Dalam Raker tahun ini juga diundang beberapa Menteri Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga sebagai narasumber untuk memberikan masukan dan memperkaya wawasan serta meningkatkan sinergitas dalam membangun perdagangan nasional ke depan.

“Diharapkan Pra-Rapat Kerja ini dapat menjadi ajang sumbang saran dan pemikiran demi peningkatan kinerja perdagangan Indonesia ke depan,” pungkas Suhanto.