Rencana penawaran umum perdana saham holding BUMN panas bumi itu disebut mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp7 triliun jika mengacu pada kurs Rp14.000.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara disebut berencana membawa holding perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang panas bumi untuk melantai di Bursa Efek Indonesia. Rencana itu dikabarkan bernilai fantastis. 

Seperti dikutip dari Bloomberg, rencana penawaran umum perdana saham holding BUMN panas bumi itu disebut mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp7 triliun jika mengacu pada kurs Rp14.000. Adapun, rencana IPO itu guna memuluskan rencana sebagai perusahaan panas bumi terbesar di dunia. 

Saat ini, Kementerian BUMN tengah menyelesaikan penggabungan tiga perusahaan untuk menjadi satu dalam holding panas bumi. Ketiga perusahaan itu adalah PT Pertamina Geothermal Energy, PT PLN Gas dan Geothermal, dan PT Geo Dipa Energy (Persero). 

Ketiga perusahaan itu sedang menyelesaikan urusan dengan konsultan untuk menyelesaikan kerja sama dalam waktu tiga bulan. Potensi penjualan saham perdana dari entitas hasil merger bisa dilakukan di Jakarta paling cepat akhir tahun ini. 

Sumber itu menyebutkan bahwa hingga saat ini proses diskusi tengah berlangsung untuk membahas detail ukuran dan penjadwalan rencana itu. Saat dimintai konfirmasi, pihak Geo Dipa dan PLN GG masih enggan untuk berkomentar. 

Begitu juga dengan Kementerian BUMN dan pihak Pertamina Geothermal Energy. Nantinya, holding itu akan mngoperasikan kapasitas pembangkit 1.022,5 megawatt, terhitung hampir setengah dari pemanfaatan energi terbarukan yang dimiliki Indonesia. 

Pada 2019, Indonesia memiliki 2,1 gigawatt kapasitas terpasang panas bumi. Indonesia menargetkan kapasitas terpasang dari panas bumi sebesar 7,2 gigawatt pada 2025 sebagai bagian dari upaya untuk memenuhi bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen. 

Selain itu, rencana IPO itu akan bergabung dengan PT Sanhiang Perkasa, PT Kalbe Farma, dan Archi Indonesia yang tengah mangantre dalam proses pencatatan sahamnya di BEI. IPO tersebut akan mendorong pasar Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Pasalnya, sepanjang tahun ini Indonesia telah mencatatkan nilai IPO sebesar 110 juta dolar AS, terpaut tipis dari total sepanjang tahun lalu senilai 157 juta dolar AS.