Kini, perbankan pelat merah alias BUMN mulai menurunkan tingkat suku bunga kreditnya. Pelaku usaha yang ingin memulai usaha atau memperbesar bisnisnya, bisa memanfaatkan kredit berbunga rendah.

Tak sedang bercanda, Ketua Umum Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), Sunarso menantang anggotanya untuk menggelontorkan kredit kepada pengusaha paling tidak sebesar Rp1.000 triliun, sepanjang 2021. Hal ini penting demi berkontribusi dalam pemilihan ekonomi nasional.

“Tapi masalahnya sekarang adalah bagaimana menumbuhkan permintaan kredit ini? Mengingat, berbagai upaya dilakukan oleh stakeholder, oleh regulator, oleh pemerintah (namun angka kredit masih belum tumbuh signifikan),” ujar Direktur Utama BRI itu, dalam sebuah webinar, beberapa waktu lalu.

Sunarso mencatat, Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter, terus memberikan dukungan melalui penurunan suku bunga acuan secara gradual hingga level 3,5 persen. “Kami kemudian mentransmisikan hal tersebut melalui pemotongan suku bunga di BRI sebesar 350 basis poin pada 28 Februari dengan skenario kredit bisa naik,” tuturnya.

Hal lain yang menjadi tantangan menurut Sunarso adalah apakah penurunan suku bunga dapat benar-benar menggenjot kredit. “Ternyata berdasarkan data yang kami himpun penurunan bunga kredit tidak serta-merta bisa menaikan permintaan,” imbuhnya.

Sebagai contoh, saat awal Kredit Usaha Rakyat (KUR) digulirkan pada 2015, bunga yang dikenakan kepada nasabah sebesar 22%. Kala itu, pertumbuhan KUR mencapai dobel digit, bahkan sempat menyentuh level 22% hingga 25%.

Mendapati KUR direspon baik masyarakat, pemerintah pada tahun-tahun berikutnya, memberikan stimulus dengan mendiskon bunga kreditnya menjadi 15%. Tidak berhenti di situ, pemerintah mensubsidi biaya bunga 5%. Sehingga nasabah hanya perlu membayar bunga 7% saja. “Tapi apa yang terjadi? Pertumbuhan KUR hanya single digit, dan hanya bisa double digit pada 2018 saja. Oleh karena itu, penurunan bunga bukan satu-satunya cara untuk bisa menaikan permintaan kredit,” kata dia.

Adapun, cara yang paling efektif menurut Sunarso adalah dengan mempertahankan atau bahkan meningkatkan daya beli dan konsumsi masyarakat. “Analisa lain kami menyebut kunci peningkatan kredit adalah dengan daya beli dan konsumsi rumah tangga. Nah, sekarang bagaimana bisa menaikkan dua hal tersebut? Yang paling relevan adalah dengan memberikan lapangan pekerjaan kepada rakyat agar punya penghasilan,” jelasnya.

Untuk itu, Sunarso mendukung langkah pemerintah yang berniat melanjutkan kembali pembangunan sejumlah proyek infrastruktur yang sempat terkendala pandemi COVID-19. Pasalnya, penggarapan berbagai sarana infrastruktur bisa menjadi jalan keluar tersendiri dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Mengingatkan saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi mengumumkan bahwa target intermediasi (penyaluran kredit) perbankan pada 2021, sebesar 7,5% plus-minus 1%. Angka itu terbilang cukup agresif bila merujuk pada realisasi 2020 yang diketahui terkontraksi minus 2,41 persen.

Adapun, rerata proyeksi pertumbuhan kredit yang tertera dalam rencana bisnis bank (RBB) sebesar 7,13%. Sementara Bank Indonesia (BI), meramal bahwa pertumbuhan kredit berada di rentang 7% hingga 9%.