BPJS Ketenagakerjaan akan mengurangi porsi investasi di saham dan reksa dana. Langkah ini dilakukan dalam rangka Asset Matching Liabilities (ALMA) Jaminan Hari Tua (JHT).

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan menargetkan hasil investasi dana kelolaan tahun ini naik menjadi Rp 33,41 triliun. Jumlah tersebut naik 3,34 persen dari hasil investasi 2020 sebesar Rp 32,33 triliun.

"Tantangan kami adalah bagaimana kami bisa terus menjaga pertumbuhan hasil investasi ke depan," kata Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (30/3).

Hingga Februari 2021, total hasil investasi mencapai Rp 5,12 triliun. Jumlah ini terdiri dari hasil investasi BPJS sebesar Rp 114 miliar dan hasil investasi Dana Jaminan Sosial (DJS) Rp 5 triliun. "Secara proporsional masih sesuai," ujar dia.

Meski begitu, dikutip Kontan.co.id, mewaspadai tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang saat ini sebesar 3,5 persen. Hal ini bisa berdampak pada penurunan hasil investasi.

Pihaknya mencatat, rata-rata pertumbuhan tahunan hasil investasi periode 2016 sampai Februari 2021 sebesar 8,95 persen per tahun. Secara rinci, hasil investasi 2016 sebesar Rp 21,76 triliun.

Selanjutnya, hasil investasi pada 2017 sebesar Rp 26,75 triliun. Sementara, hasil investasi pada 2018 dan 2019 secara berturut-turut sebesar Rp 27,28 triliun dan Rp 29,15 triliun.

Sementara, rata-rata pertumbuhan tahunan total dana investasi periode 2016-Februari 2021 sebesar 13,40 perseb per tahun. Rinciannya, total dana investasi pada 2016 sebesar Rp 261,20 triliun, 2017 sebesar Rp 317,26 triliun, dan 2018 Rp 364,89 triliun. Kemudian, total dana investasi pada 2019 sebesar Rp 431,99 triliun dan 2020 sebesar Rp 487,09 triliun.

Sementara, total dana investasi Februari 2021 sebesar Rp 489,89 triliun. Jumlah itu terdiri dari dana investasi BPJS sebesar Rp 11,06 triliun dan dana investasi DJS sebesar Rp 478,2 triliun.

Adapun, dana investasi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) hingga Februari 2021 sebesar Rp 40,3 triliun. Namun, hasil investasinya baru sebesar Rp 460 miliar.

Kemudian, dana investasi Jaminan Kematian (JKM) hingga Februari 2021 sebesar Rp 14,32 triliun. Sementara, hasil investasinya baru Rp 160 miliar.

Selanjutnya, dana investasi terbesar ada di program Jaminan Hari Tua (JHT), yaitu Rp 342,05 triliun hingga Februari 2021. Namun, hasil investasinya baru Rp 3,46 triliun.

Sementara, dana investasi pada program Jaminan Pensiun mencapai Rp 81,54 triliun per Februari 2021. Hasil investasinya mencapai Rp 933 miliar.

3 Strategi

Anggoro melanjutkan, BPJS Ketenagakerjaan akan mengurangi porsi investasi di saham dan reksa dana. Langkah ini dilakukan dalam rangka Asset Matching Liabilities (ALMA) Jaminan Hari Tua (JHT).

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo dalam rapat dengar pendapat bersama Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan dan Komisi IX DPR.
Ada tiga strategi yang dipaparkan BP Jamsostek dihadapan komisi XI. 

"Pertama, strategi investasi dengan melakukan perubahan dari saham dan reksa dana ke obligasi dan investasi langsung sehingga bobot instrumen saham dan reksa dana semakin kecil," jelas Anggoro, Selasa (30/3/2021).

Kedua, melakukan koordinasi intensif terutama dengan emiten yang memiliki kontribusi unrealized loss dalam portofolio saham untuk mengetahui strategi emiten.

Ketiga, menerapkan metode hasil pengembangan yang meperhatikan kesehatan keuangan dengan tetap memastikan hasil pengembangan di atas suku bunga yang jamin Undang-Undang.