Kondisi saat ini mirip tahun 2011 atau menjelang Pilpres 2014. Tidak ada suara dominan. Saat itu Megawati Soekarnoputri teratas.

Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis hasil survei elektabilitas calon presiden. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto masih menjadi jawara dengan angka 20 persen.

Prabowo diikuti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 11,2 persen, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo 8,8 persen, Menparekraf Sandiaga Uno 5 persen, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil 4,8 persen, Politikus PDIP Basuki Tjahaja Purnama 4,8 persen, Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 3,5 persen, dan Tri Rismaharini 3,1 persen.

"Dalam format pertanyaan semi terbuka, Prabowo mendapat dukungan terbanyak 20 persen, disusul Anies Baswedan 11,2 persen, Ganjar Pranowo 8,8 persen, Sandiaga Uno 5 persen, Ridwan Kamil 4,8 persen, Basuki T Purnama 4,8 persen, AHY 3,5 persen, dan Tri Rismaharini 3,1 persen," kata Direktur Eksekutif SMRC Sirojuddin Abbas dalam rilis survei secara virtual, Kamis (1/4).

Dalam format tertutup, 15 nama secara urutan elektabilitas tidak banyak berubah. Pertama tetap Prabowo dengan angka 20,8 persen, kedua Anies 13,1 persen, Ganjar 12 persen, Sandiaga 7,4 persen, Ridwan Kamil 6,7 persen, AHY 5,2 persen, serta Mensos Tri Rismaharini 5,2 persen. Sisanya tidak mencapai angka 3 persen.

"Dengan jumlah calon 15 orang, Prabowo kembali tertinggi, tapi angka dukungannya tidak berubah secara berarti, tetap seperti hasil pertanyaan semi terbuka yang jumlah namanya puluhan. Hanya naik 0,8 persen tak signifikan. Artinya, Prabowo tak bisa menarik pemilih yang tadinya memilih nama nama lain yang dikeluarkan dari semi terbuka menjadi 15 nama tersebut," jelas Abbas.

Sementara itu, Abbas dikutip merdeka.com mengatakan, kondisi saat ini mirip tahun 2011 atau menjelang Pilpres 2014. Tidak ada suara dominan. Saat itu Megawati Soekarnoputri teratas.

Ketika itu nama Joko Widodo belum muncul. Tetapi faktanya Jokowi bisa terpilih pada 2014. Dengan hanya elektabilitas 20 persen, Prabowo kata Abbas, bakal berat maju dalam Pilpres 2024.

"Pada Maret 2021 ini, dengan elektabilitas hanya 20 persen, diperkirakan Prabowo akan berat dalam pilpres 2024, bila ia maju," pungkas Abbas