SBY dan AHY sampai mengkontruksi opini, pemerintah zalim dan Presiden Jokowi ingin mengintervensi partai demokrat.

Ketua Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) lega setelah pemerintah tidak mengakui hasil KLB Deli Serdang yang digagas Kepala KSP Moeldoko.

Meski begitu, kelompok sukarelawan Jokowi Mania (Joman) minta AHY dan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak buru-buru merayakan kemenangan tersebut. Pasalnya, mereka berhutang permintaan maaf kepada Presiden Jokowi.

"Malu dan harusnya minta maaf. Sudah teriak-teriak ke sana kemari. Tuduh dan main fitnah akhirnya semua terang benderang ketika pemerintah menyatakan Partai Demokrat versi KLB tidak bisa disahkan," kata Ketua Joman Immanuel Ebenezer dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/4).

Noel menegaskan, keputusan pemerintah menolak permohonan kubu KLB pimpinan Moeldoko merupakan bukti tak terbantahkan bahwa Presiden Jokowi tidak memihak dalam konflik internal Partai Demokrat.

Karena itu, lanjut dia, semua tuduhan yang dilayangkan AHY serta loyalis-loyalisnya jelas salah alamat.
Noel pun mengultimatum AHY untuk berani tampil di publik dan meminta maaf secara terbuka.

"AHY juga pimpinan partai. Harus berani bertanggung jawab atas mulut comberan dari anak buahnya," tandas aktivis 98 ini.

Lebih lanjut Noel mengatakan, pola lama mencari popularitas ala SBY sudah tidak laku dalam menarik perhatian dan popularitas.

Apalagi, tambah Noel, sampai mengkontruksi opini, pemerintah zalim dan Presiden Jokowi ingin mengintervensi partai demokrat.

"Nyatanya kan tidak. Pemerintah mengambil keputusan berdasar data data legalitas saja. Tidak ada niat untuk membelah partai Demokrat. Ini kan konflik internal yang didesain untuk menyeret nama Jokowi. Ujungnya pencitraan ala SBY lah," papar Noel.