Ekspor produk olahan nanas memberikan kontribusi terbesar dibanding buah segar dan olahan lainnya, yaitu sebesar 70,30%. Sedangkan untuk ekspor buah-bahan segar, ekspor pisang memberikan kontribusi sebesar 6% terhadap total ekspor buah-buahan segar.

Dalam rangka percepatan pelaksanaan program pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor, Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kembali melakukan inisiasi dan kerja sama kemitraan dengan Pemerintah Daerah. Kali ini di Desa Pulung, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo yang menjadi tuan rumah rangkaian kegiatan melalui penanaman perdana pengembangan komoditas hortikultura. Setelah sebelumnya dilaksanakan di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh pada 18 Februari 2020 yang lalu.

“Sesuai dengan arahan Bapak Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, inisiasi dan kerja sama kemitraan yang dilakukan oleh Kemenko Perekonomian ini dilakukan sebagai langkah untuk meningkatkan pemerataan ekonomi di daerah dan meningkatkan ketersediaan sumber pangan yang berkualitas,” tutur Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso dalam pembukaan rangkaian kegiatan penanaman perdana pengembangan komoditas hortikultura, Kabupaten Ponorogo (3/4).

Program ini, lanjut Susiwijono, akan menjadi role model manajemen agribisnis yang lebih baik melalui kemitraan dengan pelaku usaha yang sudah memiliki kompetensi untuk ekspor.

BPS mencatat sektor pertanian memiliki kontribusi sebesar 13,70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan (19,88%). Pada periode Januari-Februari 2021, ekspor Sektor Pertanian sebesar 0,65 miliar USD, naik 10,17% terhadap periode Januari-Februari 2020 (0,59 miliar USD).

“Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam perekonomian Indonesia serta terbukti tangguh dan resilien di masa pandemi Covid-19,” ujar Susiwijono.

Sementara itu, selama masa pandemi Covid-19 di 2020, terdapat sebesar 389,9 juta USD nilai realisasi ekspor buah-buahan segar dan olahan. Lebih detail, ekspor buah-buahan segar saja di tahun 2020 sebesar 96,3 juta USD, meningkat sebesar 30,31% dibanding tahun 2019.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa produk buah-buahan Indonesia diminati oleh pasar global, sehingga perlu dikembangkan untuk meningkatkan daya saing produk serta meningkatkan kontribusi ekspor buah-buahan terhadap devisa negara.

Dari total ekspor buah-buahan segar dan olahan di tahun 2020 tersebut, ekspor produk olahan nanas memberikan kontribusi terbesar dibanding buah segar dan olahan lainnya, yaitu sebesar 70,30%. Sedangkan untuk ekspor buah-bahan segar, ekspor pisang memberikan kontribusi sebesar 6% terhadap total ekspor buah-buahan segar.

“Terdapat 5 negara tujuan utama ekspor utama produk buah-buahan Indonesia, yaitu RRC, Hongkong, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Pakistan,” ujar Sesmenko Susiwijono.

Namun dalam pengembangan hortikultura di Indonesia, masih terdapat masalah dan tantangan seperti lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM) dan kelembagaan petani, terbatasnya modal, kurangnya pendampingan dan inovasi teknologi, serta rendahnya daya saing dan kurangnya akses pasar. Oleh karena itu, kerja sama kemitraan dengan petani perlu didorong agar petani dapat terbantu dalam merancang pola produksi hingga pemasaran sehingga petani menjadi mandiri dan tangguh.

Sebagai program prioritas, Kemenko Perekonomian akan mengkoordinasikan melalui integrasi kebijakan, yaitu penyediaan lahan melalui optimalisasi kebijakan pemanfaatan lahan Perhutanan Sosial, peningkatan produksi, mutu dan daya saing produk, dan peningkatan akses pembiayaan petani melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Selain itu, peningkatan akses pasar melalui e-commerce, dukungan logistik, pembangunan sarana prasarana/infrastruktur transportasi, serta dukungan kebijakan tarif dan perdagangan internasional juga menjadi prioritas yang dilakukan Kemenko Perekonomian.

Model kemitraan dengan PT Great Giant Pinneapple (GGP) merupakan salah satu contoh terobosan strategi untuk membangkitkan animo petani pisang untuk terjun ke dalam agribisnis berorientasi ekspor. Namun demikian, pola kemitraan ditekankan pada pendekatan Creating Shared Value (CSV) yaitu keterpaduan peran dari semua pihak yang terlibat untuk memberikan nilai tambah.

Hingga saat ini, pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor telah dilakukan di 5 (lima) lokasi, yaitu Kabupaten Tanggamus-Lampung, Kabupaten Jembrana-Bali, Kabupaten Bener Meriah-Aceh. Sementara di Provinsi Jawa Timur antara lain Blitar dan Bondowoso, dan hari ini di Kabupaten Ponorogo dikembangkan kawasan yang serupa di lahan seluas 2 hektare.

Penanaman Perdana Pengembangan Kawasan Hortikultura di Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur merupakan hasil koordinasi dan kerjasama yang baik antara semua pihak yaitu Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Pemerintah Kabupaten Blitar, BNI, BRI dan Bank Mandiri, Jamkrindo, Askrindo, serta PT GGP.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan secara simbolis dukungan prasarana dan sarana produksi dari Kementerian Pertanian, KUR dari Himbara serta Corporate Social Responsibility (CSR) berupa alat semprot obat pertanian dari BNI, CSR berupa gapura Desa Pulung dari BRI dan CSR berupa cultivator dari Mandiri, CSR berupa alat angkut roda tiga dari Jamkrindo dan Askrindo.