Hanya saja dalam konteks Ketua Umum PDIP, Jokowi tidak memiliki darah Soekarno sehingga jika terpilih hampir dipastikan tak mampu menjadi perekat untuk menjaga solidaritas partai.

Presiden Joko Widodo dinilai sebagai salah satu tokoh yang potensial menggantikan Megawati Soekarnoputri memimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Hanya saja, konsekuensinya perolehan suara PDIP terancam turun di Pemilu 2024.

Apa alasannya? Pengamat Politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting, Arif Nurul Imam mengatakan, Presiden Jokowi dianggap tidak punya memiliki darah Soekarno, itu yang menjadi titik lemah ketika menjadi ketua umum partai berlambang banteng bermoncong putih itu.

"Secara ketokohan Pak Jokowi layak untuk jadi ketua umum partai," ujar Arif Nurul Imam kepada SINDOnews, dikutip Senin (12/4/2021). 

Arif mengatakan pengalaman politik Jokowi sudah panjang dan mendaki dari bawah. 

"Hanya saja dalam konteks Ketua Umum PDIP, Pak Jokowi tidak memiliki darah Soekarno sehingga jika terpilih hampir dipastikan tak mampu menjadi perekat untuk menjaga solidaritas partai," jelasnya.

Dampak dari tidak biasanya menjadi perekat untuk menjaga soliditas partai, kata dia, adalah penurunan suara. 

"Tentu akan berdampak terhadap kinerja kader partai sehingga langsung atau tidak langsung akan menurunkan suara partai," pungkasnya.

Belum lama ini, Megawati Soekarnoputri mengaku tidak masalah posisinya sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) digantikan orang lain. Asalkan, PDIP harus tetap ada sebagai salah satu partai andalan di republik ini.

Hal tersebut disampaikan Megawati dalam pidatonya di acara peluncuran buku ‘Merawat Pertiwi’ yang diselenggarakan secara virtual pada Rabu 24 Maret 2021.