Kewajiban BUMN Karya kepada para anggota Gapensi harus tetap dilaksanakan. Apabila tidak, maka ada kemungkinan proyek mangkrak.

Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Seluruh Indonesia (Gapensi) angkat suara mengenai keuangan BUMN Karya yang merugi. Ternyata, kondisi negatif tersebut tentu berdampak juga ke para anggota Gapensi.

Sekjen Gapensi, Andi Rukman N Karumpa, mengungkapkan pihaknya selalu berhubungan dengan BUMN Karya mulai dari sebagai mitra, sub kontraktor, hingga menjadi vendor. Nah, ketika keuangan BUMN Karya bermasalah, pembayaran ke mitra, vendor, dan sub kontraktor jadi tertunda.

“Jadi jika misal BUMN Karya ini bermasalah, ya sudah pasti ini juga masalah bagi kami. Bahkan kalau mau buka data BUMN Karya kan enggak bisa menyelesaikan proyek-proyeknya sendiri. Kami-kami ini yang ‘memodalin’ mereka,” kata Andi saat dihubungi, Rabu (14/4).

Andi mengatakan sudah menjadi rahasia kalau pihaknya bekerja untuk BUMN tidak pernah ada uang muka. Sementara BUMN menerima uang muka dari pemilik proyek. Ia mengaku pihaknya biasanya baru dibayar setelah perusahaan negara itu menerima pembayaran dari pemilik proyek.

Andi menegaskan meski dalam kondisi seperti ini, kewajiban BUMN Karya kepada para anggota Gapensi harus tetap dilaksanakan. Apabila tidak, maka ada kemungkinan proyek mangkrak.

“Jika payment-payment tidak segera dibayar sesuai janji, ya sudah pasti sub-kontraktor akan menghentikan supportnya. Jika kondisi ini berlarut-larut, sudah bisa dipastikan proyek akan berhenti dan mangkrak,” ujar Andi dikutip Kumparan.com.

“Karena enggak mungkin karyawan BUMN mengerjakan sendiri semua pekerjaan. Mereka mutlak perlu mitra perlu sub-kontraktor, vendor material, dan lain-lain,” tambahnya.

Andi merasa sebenarnya jika BUMN dikelola dengan good governance dan B to B secara maksimal, tentu kecil kemungkinan mengalami kerugian. Ia mengaku prihatin dengan finansial BUMN Karya saat ini.

Andi berharap segera ada langkah strategis yang disiapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Apalagi, kata Andi, BUMN Karya mengemban tugas berat dari negara.

Andi menuturkan, tugas itu berbeda dengan yang dilakukan di swasta karena berpikirnya sederhana dan pragmatis yaitu kalau ada untung diambil, kelihatan buntung ya dilepas.