Meminta agar PN Semarang mengabulkan permohonan PKPU sementara terhadap Iwan beserta istri dan Senang Kharisma Textil paling lama 45 hari terhitung sejak putusan a quo.

PT Bank QNB Indonesia Tbk melayangkan gugatan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) terhadap Direktur Utama PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex Iwan Setiawan Lukminto dan anak usaha perseroan, PT Senang Kharisma Textil.

Bank QNB dalam petitumnya meminta agar PN Semarang mengabulkan permohonan PKPU sementara terhadap Iwan beserta istri dan Senang Kharisma Textil paling lama 45 hari terhitung sejak putusan a quo.

Seperti dilansir CNN Indonesia, laporan keuangan perseroan tahun lalu, Sritex secara konsolidasi memiliki total liabilitas sebesar 1,17 miliar dolar AS, setara Rp17,01 triliun (mengacu kurs Rp14.541 per dolar AS). Total liabilitas itu naik 21,04 persen dari tahun sebelumnya 966,58 juta dolar AS.

Terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar 398,34 juta dolar AS dan liabilitas jangka panjang 781,22 juta dolar AS.

Liabilitas tersebut salah satunya berasal dari utang dengan bank. Khusus untuk utang kepada Bank QNB Indonesia, jumlahnya mencapai sebesar 35,44 juta dolar AS, naik dari tahun sebelumnya 14,38 juta dolar AS. Utang kepada Bank QNB tersebut terdiri dari beberapa jenis pinjaman.

Pertama, berdasarkan akta notaris nomor 1 tertanggal 1 Juli 2019 dan perubahan terakhir akta notaris nomor 51 dan nomor 52 tertanggal 18 Juni 2020 perihal perjanjian kredit. Fasilitas tersebut meliputi omnibus modal kerja (working capital) yang digunakan untuk pembiayaan modal kerja perusahaan, terkait dengan pengadaan bahan baku produksi impor dan lokal, serta pembiayaan terkait kebutuhan operasional lainnya.

Fasilitas ini jatuh tempo pada 18 Desember 2020. Bentuk fasilitas modal kerja itu antara lain demand loan sebesar Rp500 miliar, Diskonto Wesel Ekspor (DWE) atau Negosiasi Wesel Ekspor (NWE) sebesar Rp600 miliar, Standby Letter of Credit (SBLC) sebesar 10 juta euro Eropa setara Rp160 miliar, dan sebagainya.

Selain modal kerja, menurut akta notaris itu Sritex juga mendapatkan pinjaman untuk transaksi forex yakni FX line spot dan forward sebesar 3 juta dolar AS. Pinjaman ini jatuh tempo pada 18 Desember 2020.

Kedua, berdasarkan adendum perjanjian kredit No. 077/PK- 1114/XII/2020 dan No. 078/PK-1114/XII/2020 tertanggal 15 Desember 2020. Pinjaman ini akan jatuh tempo pada 1 April 2021.

"Perpanjangan perjanjian sedang dalam proses," bunyi laporan keuangan perseroan.

Pada 31 Desember 2020 dan 2019 saldo utang atas fasilitas berdasarkan perjanjian kredit itu masing-masing sebesar Rp500 miliar dan Rp200 miliar.

Sementara itu, PT Senang Kharisma Textile merupakan entitas anak yang bergerak di bisnis penjualan atas benang, kain jadi dan pakaian jadi, serta pembelian kain greige.

"Dalam kegiatan usaha normal, perusahaan melakukan transaksi usaha dan keuangan dengan syarat-syarat yang telah disepakati dengan pihak berelasi, yang pada umumnya merupakan perusahaan-perusahaan yang berada di bawah pengendalian yang sama," bunyi laporan keuangan.

Tercatat, Sritex mempunyai saldo piutang kepada PT Senang Kharisma Textile sebesar 25,21 juta dolar AS  naik dari tahun lalu 19,71 juta dolar AS.

Sepanjang tahun lalu, Sritex mengantongi laba sebesar 85,32 juta dolar AS. Keuntungan bersih itu turun 2,65 persen dari 87,65 juta dolar AS di 2019.

Meskipun, pendapatan perseroan naik dari 1,18 miliar dolar AS menjadi 1,28 miliar dolar AS. Penurunan laba disebabkan kenaikan beban pokok penjualan dari 946,58 juta dolar AS menjadi 1,05 miliar dolar AS. Selain itu beban penjualan juga naik dari 17,51 juta dolar AS menjadi 18,93 juta dolar AS.