Angka itu berasal dari jumlah tenaga kerja sektor pariwisata yang susut 6,67 persen dari Rp14,96 juta pekerja pada 2019 menjadi 13,96 juta pekerja.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencatat sekitar 1 juta pekerja di sektor pariwisata menganggur akibat pandemi covid-19 tahun lalu. 

Angka itu berasal dari jumlah tenaga kerja sektor pariwisata yang susut 6,67 persen dari Rp14,96 juta pekerja pada 2019 menjadi 13,96 juta pekerja.

"Jumlah tenaga kerja juga turun 6,67 persen menjadi sekitar 13,96 juta," ujar Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Parekraf Raden Kurleni Ukar dalam diskusi virtual bertajuk 'Mendobrak Inersia Pemulihan Ekonomi' yang diselenggarakan CORE Indonesia, akhir pekan lalu.

Tak hanya itu, jam kerja tenaga kerja sektor pariwisata juga turun sangat signifikan.

"Ini juga memengaruhi pendapatan mereka sehingga dapat dikatakan tenaga kerja pariwisata menjadi setengah menganggur di 2020," lanjut Kurleni.

Meski demikian, dikutip CNN Indonesia, Kemenparekraf memprediksi jumlah tenaga kerja sektor tersebut akan bertambah sekitar 3,98 persen menjadi 14,5 juta orang. Namun hal tersebut tersebut bergantung pada penurunan kasus aktif covid-19 di Indonesia.

Tanpa vaksin, menurut Kurleni, subsektor yang berkaitan dengan industri pariwisata sendiri perlahan sudah mengalami pertumbuhan setelah terkontraksi pada awal 2020. Di kuartal III tahun lalu, misalnya, transportasi dan pergudangan serta akomodasi dan makanan-minuman mengalami pertumbuhan cukup signifikan.

"Adanya proses vaksinasi dan menurunnya kasus covid-19, kami mengharapkan sektor pariwisata akan mulai pulih pada kuartal ketiga 2021," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menuturkan pemulihan ekonomi beberapa daerah yang bergantung pada pariwisata bergantung pada dua hal, yakni stimulus pemerintah dan kecepatan penanganan covid-19.

Jika hal ini tak dapat dilakukan dengan baik, maka perekonomian wilayah-wilayah tersebut akan terus mengalami kontraksi. Ia menyebut provinsi Bali, misalnya, yang perekonomiannya tumbuh minus 12 persen hingga kuartal IV 2020.

"Upaya untuk memberikan stimulus daerah-daerah pariwisata menjadi sangat penting oleh karena itu kami mendukung tingkat vaksinasi di daerah pariwisata seperti di Bali ini lebih banyak dibandingkan daerah lain," tegasnya.