KPK memberi pesan bahwa Jokowi-Ma'ruf yang mendapatkan dukungan rakyat di atas 60 persen itu adalah pemimpin yang ingin KPK mati. Popularitas Pak Jokowi dipakai untuk melumpuhkan KPK. Cukong senang, rakyat senang

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Demokrat Benny K Harman menyinggung foto Jokowi dan Ma'ruf Amin dalam ruangan konferensi pers KPK saat menyampaikan hasil asesmen tes wawasan kebangsaan pegawai KPK untuk alih status sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Hal ini termasuk hal baru di KPK. Sebelumnya, tidak ada foto presiden atau wakil presiden di latar belakang saat konferensi pers KPK. Benny menilai pemasangan foto tersebut disengaja sebagai bukti KPK dimatikan oleh Jokowi dan Ma'ruf Amin.

Awalnya Benny menyinggung foto Jokowi dan Ma'ruf Amin dalam gedung KPK menunjukkan komitmen keduanya memberantas korupsi. Dia juga menyebut KPK tetap kuat.

"Itu menunjukkan. Pertama, Jokowi dan Ma'ruf tetap berkomitmen berantas korupsi; kedua, meskipun Novel dkk diberhentikan, di KPK sudah banyak Novel-Novel lain yang tumbuh dan berkembang, patah satu hilang berganti. Jangan pesimis. KPK tetap kuat," ucap Benny seperti dikutip dari Detik.com, Rabu (5/5/2021).

Benny mengatakan adanya kesengajaan terkait pemasangan foto Jokowi dan Ma'ruf Amin dalam gedung KPK. Menurutnya, ada pesan di balik pemasangan foto tersebut, yakni Jokowi dan Ma'ruf Amin-lah yang mematikan KPK.

"Ketiga, foto itu sengaja dipasang untuk memberi pesan bahwa yang mematikan KPK adalah Jokowi dan Ma'ruf," ucapnya.

Politikus Partai Demokrat ini menjelaskan pemasangan foto kepala negara juga bisa diartikan adanya kepentingan politik Jokowi dan Ma'ruf Amin di KPK. KPK, menurutnya, kini menjalankan agenda Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin.

"Bahwa KPK berada di bawah Presiden dan menjalankan agenda Presiden dan bukan agenda yang lain. Keempat, politik yang dijalankan KPK adalah politiknya Jokowi-Ma'ruf sebagai pemimpin eksekutif," ujarnya.

"Dengan foto (Jokowi dan Ma'ruf) itu, KPK memberi pesan bahwa Jokowi-Ma'ruf yang mendapatkan dukungan rakyat di atas 60 persen itu adalah pemimpin yang ingin KPK mati. Popularitas Pak Jokowi dipakai untuk melumpuhkan KPK. Cukong senang, rakyat senang!" tegasnya.