Belum sehari Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021 yang jeblok karena masih minus. Tepatnya minus 0,74 dibandingkan kuartal I-2020. Mungkinkah kuartal II bisa meroket?

Tentu saja, tak sedang bercanda, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melompat hingga 7% pada kuartal II-2021. Mudah-mudahan bukan PHP, pemberi harapan palsu, kata anak milenial.

Proyeksi yang sangat optimistis, kata Airlangga, bukan tanpa alasan. "Kalau di kuartal II tahun kemarin, itu angkanya Rp 2589,8 triliun. Sehingga tentu ini sangat rendah. Apabila PDB harga konstan sama dengan yang dilakukan kuartal I maka dia sudah melompat 5,62%. Pemerintah confident 6,9-7% bisa tercapai di kuartal II," ungkap Menko Airlangga dikutip dari CNBCIndonesia, Rabu (5/5/2021)

Indikator lainnya, kata Airlangga adalah peningkatan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang mencapai 54,6. Beberapa industri juga tumbuh lebih baik sejak April, salah satunya ritel.

Pemerintah juga mempercepat realisasi program pemulihan ekonomi nasional. Khususnya pencairan bantuan sosial hingga pemberian insentif untuk dunia usaha, termasuk UMKM. Dan, UU Cipta Kerja juga diharapkan bisa memberikan konstribusi setelah disahkan beberapa bulan lalu. Sehingga bisa mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi.

Ekspor diharapkan juga alami peningkatan seiring dengan pemulihan yang sudah terjadi pada mitra dagang utama Indonesia, seperti Amerika Serikat dan China. Di sisi lain ada peningkatan harga komoditas.  "Makanya pemerintah yakin pertumbuhan di kuartal II akan jauh lebih baik," jelas Airlangga.    

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian di tiga bulan pertama tahun ini, minus 0,74% dibanding kuartal I-2020 alias year on year (yoy). Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat Rp 3.969,1 triliun. Kemudian, bila dilihat atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp 2.683,1 triliun. "Dengan begitu, maka ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi 0,74% yoy, dan secara kuartalan turun 0,96% qtq," ujar Suhariyanto, Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Meski begitu, Suhariyanto melihat adanya tanda pemulihan yang semakin nyata. Pasalnya, bila dibandingkan dengan tahun lalu, pertumbuhan ekonomi konsisten mengalami perbaikan.

Dimulai dari kuartal II-2020 yang pada waktu itu ekonomi tertekan hingga minus 5,32% (yoy), mulai membaik pada kuartal III-2020 yang minus 3,49% (yoy), dan kuartal IV-2020 kontraksi kembali mengecil menjadi minus 2,19% (yoy). "Ini menunjukkan tanda pemulihan ekonomi akan semakin nyata, dan berharap ke depan pemulihan ekonomi terjadi di 2021 betu-betul bisa terwujud," tandasnya.