Suka atau tidak, dukungan perbankan terhadap bertumbuhnya sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masih rendah. Namun begitu, mulai ada kesadaran menuju perbaikan.

Tak sedang bercanda, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop dan UKM), Teten Masduki mengatakan, rasio kredit perbankan kepada UMKM, ditargetkan lebih dari 30% pada 2024.

Untuk saat ini, mantan aktivis anti korupsi ini, mengatakan, porsi kredit untuk UMKM di Indonesia, sangatlah rendah. Bahkan boleh dibilang terendah di antara Singapura, Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan. "Saya kira kami optimistis kami dengan Menko Ekonomi sudah mempelajarinya. Insyaallah dengan terus menambah porsi KUR ini angka 30 persen akan dilampaui pada 2024," ungkap Teten, Kamis (6/5/2021).

Oleh karena itu, pemerintah berencana menaikkan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp500 juta menjadi Rp20 miliar untuk meningkatkan rasio kredit perbankan terhadap UMKM. "Plafon KUR dari sebelumnya maksimum hanya Rp500 juta sekarang naik sampai Rp20 miliar. Ini nanti akan diatur dalam KUR khusus yang implementasinya masih kita bahas di Kemenko Perekonomian," jelasnya.

Dengan menaikkan plafon KUR, pemerintah mempermudah akses pembiayaan demi mengembangkan kapasitas bisnis dan daya saing produksinya UMKM dalam negeri. Di sisi lain, pemerintah juga sedang menyiapkan Peraturan Presiden mengenai kewirausahaan dalam rangka membuat ekosistem kewirausahaan Indonesia menjadi lebih baik karena saat ini persentasenya masih di level 3,47 persen.

Dari 64 juta pelaku UMKM, hanya 3,47 persen yang masuk dalam kategori kewirausahaan sehingga menandakan struktur ekonomi Indonesia didominasi oleh sektor kurang produktif. "Padahal saya kira di negara maju porsinya sudah sudah 14 persen jadi kita perlu mengejar jumlah wirausahawan baru," pungkas dia.