Harus diakui semua terimbas pandemi. Tapi sekali lagi, bisnis kuliner merupakan salah satu usaha yang tidak pernah mati sampai kapan pun.

Bisnis makanan atau biasa di sebut bisnis kuliner dalam beberapa tahun terakhir semakin menjamur di Indonesia. Bisnis kuliner saat ini banyak diminati oleh semua kalangan, khususnya generasi milenial. 

Di mata kaum milenial, bisnis kuliner termasuk salah satu usaha yang cukup menjanjikan. Hal itu pula yang tertanam di benak Stanley. Selain karena hobi dalam hal masak memasak, ia mengaku bahwa bisnis kuliner adalah bisnis yang menjanjikan.

"Bisnis kuliner merupakan salah satu usaha yang tidak pernah mati sampai kapan pun. Makan itu kebutuhan pokok, apapun makanan yang kita jual mesti ada yang beli walaupun hanya satu atau dua orang," kata Stanley dalam perbincangan dengan Bizlaw.id belum lama ini.

"Saya yakin, setiap manusia akan selalu membutuhkan makanan, dan dari sanalah bisnis ini akan terus hidup ke depannya," ucap pria asal Jepara ini.



Pria 25 tahun itu mengatakan, dunia masak memasak merupakan passion-nya sedari kecil. Mengingat ibunya juga merupakan pebisnis handal di bidang kuliner.

"Mama saya buka usaha katering. Sedari kecil saya sering melihatnya memasak untuk memenuhi pesanan pelanggan, dan saya kerap mencicipi masakan yang mama saya buat," ungkap Stanley, mengisahkan ketertarikannya di bidang kuliner.

Singkat cerita, setelah Stanley menyelesaikan pendidikan formil, ia pun memutuskan untuk mengambil sekolah memasak di Tristar Institute Semarang Culinary Center (SCC) demi memenuhi passionnya.

Kelar dari SCC Stanley tak langsung memilih untuk membuka usaha. Untuk menambah ilmu dan pengalaman, ia pun hijrah ke Bandung. "Saya ikut saudara yang tinggal di daerah Geger Kalong. Saudara saya punya cafe kecil-kecilan yang cukup ramai. Banyak dikunjungi anak-anak muda untuk sekadar kongkow. Tapi di situ saya nggak banyak ikut memasak, malah justru sering meracik kopi," kenang Stanley.

Setelah pengalaman dan ilmu yang didapatnya dari Bandung dirasa cukup, Stanley pun kembali ke Jepara. Pada 2019, Stanley merintis bisnis kulinernya sendiri. Menspesialisasikan diri pada masakan Chinese food, Stanley mendirikan 'Depot Lekker'.

Stanley mengatakan, nama 'Depot Lekker' merupakan pemberian dari neneknya. Namun karena lekker merupakan jajanan khas Semarang. Orang yang datang ke depotnya pun kerap salah sangka. "Mereka cari lekker, padahal kita jual Chinese food. Akhirnya kita ganti nama 'Prima Rasa', biar orang yang datang nggak salah lagi," ungkap pria berbadan bongsor itu, sembari tertawa.

Dua tahun menjalani bisnis kuliner di Jepara, Stanley tertantang untuk menaklukkan Ibu Kota. Dengan tetap mengusung Chinese food, Stanley mendirikan 'Mr. Ndutt' di Jakarta.



Ia bukan tak menyadari bahwa semua sektor usaha saat ini, tak terkecuali bisnis kuliner terimbas pandemi COVID-19. Hal itu pun ia rasakan. "Harus diakui semua terimbas pandemi. Tapi sekali lagi, bisnis kuliner merupakan salah satu usaha yang tidak pernah mati sampai kapan pun. Makan itu kebutuhan pokok, apapun makanan yang kita jual mesti ada yang beli," kata Stanley, mengulang pernyataan di awal, sekaligus menyuarakan rasa optimismenya.

Ia menorehkan keyakinan bahwa 'Mr. Ndutt' mampu bersaing dengan pesaing lainnya. "Selain sering mengkreasikan resep, saya juga punya resep yang diwariskan secara turun temurun dan kita memakai bahan-bahan yang terbaik. Kalau sudah coba, dijamin nggak nyesel," kata Stanley.

"Tak hanya Chinese food, 'Mr. Ndutt' juga menyajikan masakan Sea food. Keduanya dijamin halal," tambah Stanley.

Ia juga mengatakan, pandemi virus Corona mengubah perilaku konsumen sangat drastis. Terutama bagi konsumen di bisnis kuliner yang kini sudah mengurangi aktivitas makan di luar.

Untuk mengatasi itu, ia membuka layanan secara online. 'Mr. Ndutt' untuk sementara waktu hanya melayani pesan antar atau delivery order lewat GoFood dan GrabFood.