Presiden Jokowi mengatakan bahwa Butet telah menorehkan prestasi di berbagai pertandingan besar, diantaranya Olimpiade, Piala Dunia, hingga turnamen besar lainnya.

Atlet Liliyana Natsir baru saja pensiun dari lapangan bulutangkis. Sederet prestasi kelas dunia telah ditorehkan pemain yang akrab disapa Butet itu.

Usai gantung raket, Liliyana pun diundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk datang ke Kantor Presiden, Selasa (29/1/2019). Presiden Jokowi yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno menyambut kedatangan Liliyana Natsir yang diantar Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi di ruang depan Istana Merdeka pukul 09.40 WIB.

Selanjutnya Presiden mengajak Liliyana yang akrab dipanggil "Butet" ini ke ruang utama Istana Merdeka bersama Pratikno dan Imam Nahrawi.

Sekitar 30 menit Presiden dan Liliyana berbincang dan selanjutnya memberi keterangan kepada wartawan yang menunggu di ruang depan Istana Merdeka.

"Indonesia sangat kehilangan atas pensiunnya Liliyana Natsir. Bukan hanya Indonesia, tapi dunia juga akan kehilangan sosok Liliyana," kata Jokowi.

Presiden mengatakan bahwa Butet telah menorehkan prestasi di berbagai pertandingan besar, diantaranya Olimpiade, Piala Dunia, hingga turnamen besar lainnya.

Jokowi berharap prestasi "Butet" ini bisa menular ke pemain-pemain yunior dan bisa berprestasi seperti Liliyana Natsir. "Tadi saya sampaikan, sebentar lagi (Butet) jadi PNS, jadi ASN, agar bisa memotivasi dan muter ke beberapa daerah. Apa yang akan dikerjakan, apa yang akan dilakukan agar bisa berprestasi," harap Presiden, seperti dilansir dari Antara.

Liliyana Natsir yang ada disamping Presiden Jokowi menyatakan terima kasih telah diterima di Istana dan siap memberikan motivasi kepada generasi muda agar bisa berprestasi. "Saya siap memberi motivasi agar generasi muda lebih berprestasi dan tradisi medali emas di Olimpiade tetap terus bisa dilakukan," kata Butet.

Deretan Prestasi Dunia Butet
Liliyana Natsir mulai angkat raket pada usia 9 tahun. Saat itu pemain spesialis ganda ini bergabung dengan klub bulutangkis lokal di Manado, Pisok.

Pada usia 12 tahun, Liliyana memutuskan pindah ke Jakarta untuk bergabung dengan klub PB Tangkas. Prestasinya di klub ini membawa wanita kelahiran Manado ini diajak masuk ke Pelatnas Cipayung.

Di tahun pertamanya di Pelatnas, Liliyana yang berpasangan dengan Markis Kido langsung meraih medali emas di kelas ganda campuran Kejuaraan Junior Asia.

Prestasi ini terus berlanjut pada 2005. Liliyana yang berpasangan dengan Nova Widianto sukses meraih medali emas pada Kejuaraan Dunia 2005 yang dihelat di Anaheim, California, Amerika Serikat. Prestasi ini pun terulang pada 2007.

Bersama Nova, Butet juga sukses meraih medali emas SEA Games 2005 dan 2009, Kejuaraan Asia 2006, dan Piala Dunia Badminton 2006. Sementara pada SEA Games 2007, Liliyana meraih medali emas di sektor ganda putri ketika berpasangan dengan Vita Marissa.

Namun, pada Olimpiade Beijing 2008, Liliyana/Nova gagal mempersembahkan emas untuk Indonesia. Mereka hanya meraih medali perak usai kalah dari pasangan Korea Selatan, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung di partai final.

Pada 2010, Liliyana berpisah dengan Nova dan dipasangkan dengan Tontowi. Berpasangan dengan Owi, prestasi Butet makin cemerlang.

Mereka memulainya dengan meraih SEA Games 2011 yang dilanjutkan Kejuaraan Dunia 2013. Pada 2015, Owi/Butet sukses memenangkan Kejuaraan Asia. Puncaknya, mereka meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying di partai puncak. Dan di 2017, ketika diterpa cedera lutut, Butet masih bisa merebut medali emas Kejuaraan Dunia.

Bersama Owi, Liliyana juga mencetak hattrick di All England pada 2012-2014. Di turnamen setingkat Super Series, Butet mengumpulkan 23 kemenangan. Sedangkan pada level Grand Prix dan Grand Prix Gold, wanita 33 tahun itu mengoleksi 10 gelar.

Sayangnya, Butet belum pernah meraih medali emas di Asian Games. Prestasi terbaiknya di pesta olahraga terbesar se-Asia itu hanyalah meraih medali perak Asian Games 2014.