Dampak pembekuan fasilitas perbankan cukup dahsyat terhadap arus kas PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex, industri tekstil yang beroperasi di Solo, Jawa Tengah.

Saat ini, dikutip dari IDXChannel, Sritex telah berstatus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Sementara. Hal itu merupakan putusan majelis hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang yang mengabulkan gugatan PKPU CV Prima Karya, terhadap Sritex.

Lalu bagaimana dampak keputusan trsebut? Corporate Secretary Sritex, Welly Salam, menjelaskan, dampak PKPU kepada operasional Perseroan, terbilang cukup minimal. Meski begitu, dampak pembekuan fasilitas perbankan cukup berdampak kepada arus kas Perseroan.

"Hingga kuartal I-2021, jumlah fasilitas yang dibekukan mencapai 300 juta dolar AS, sehingga saldo kas operasional kami banyak digunakan untuk mendukung kegiatan operasional. Dalam jangka panjang, penjualan kami dapat terdampak karena modal kerja yang tergganggu," ujarnya dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (20/5/2021).

Untuk menghindari keputusan pailit, saat ini Sritex menjalani komunikasi yang baik dengan para kreditur. "Kami berharap bahwa skema restrukturisasi kami dapat diterima dengan baik oleh para kreditur, sehingga kegiatan operasional Perusahaan dapat kembali seperti normal," kata dia.

Selain itu, Sritex juga masih berkomunikasi dengan lembaga rating Moodys dan Fitch. Untuk diketahui, pada 22 Maret 2021 lalu, Moodys Investors Service menurunkan peringkat utang SRIL dari B1 menjadi B3. Kemudian, pada 26 Maret 2021, Fitch Ratings juga menurunkan peringkat SRIL pada Long-Term Issuer Default Rating (IDR) dari B- menjadi BB- "Kami masih berupaya untuk mendapatkan penilaian yang adil, agar nasib Perusahaan tidak dinilai berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. Kami berharap Lembaga rating untuk tidak menebar kepanikan kepada kreditur dan investor," tuturnya.