Mulai 9 Agustus 2021, pengelola Blok Rokan akan beralih dari PT PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke Pertamina Hulu Rokan (PHR). Ribuan pegawai CPI bergabung ke PHR.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati mengungkapkan, sedikitnya 2.757 pekerja Chevron (CPI) akan bergabung menjadi calon pekerja Pertamina Grup. "Selamat datang kepada 2.757 pekerja Chevron Pacific Indonesia, calon pekerja Pertamina Grup," kata Nicke Widyawati, dikutip dari Antara, Senin (7/6/2021).  

Dijelaskan Nicke, alih kelola ke Pertamina sebagai perusahaan nasional akan memberi manfaat yang lebih luas lagi bagi negara dari sisi pengelolaan dan penerimaan negara serta memperkuat posisi Pertamina sebagai salah satu lokomotif pembangunan dan perekonomian nasional.

Menurut mantan direktur PLN ini, perusahaan memiliki amanah dan tugas mulia, yakni diberi target memproduksi migas 1 juta barel pada 2030, sehingga dibutuhkan komitmen dan dedikasi seluruh elemen pekerja khususnya Subholding Upstream untuk dapat mewujudkan cita-cita ini.

Sementara, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi, sebagai Subholding Upstream, Budiman Parhusip menjelaskan, ke depan Blok Rokan akan dikelola oleh PHR di bawah naungan PT Pertamina Hulu Energi selaku Subholding Upstream. "Saat ini, PHR mengelola Wilayah Kerja dan Asset Hulu di Wilayah Sumatera yang dikenal dengan Regional 1-Sumatera Subholding Upstream," katanya.   

Ia menjelaskan, dengan sistem Regionalisasi ini, antara Wilayah Kerja dan Aset yang saling berdekatan khususnya Sumatera dalam hal ini, dapat dilakukan optimalisasi lapangan dan efektifitas pengembangan operasi. Sehingga dengan bergabungnya Pekerja CPI juga akan lebih membuka kesempatan pengembangan karir.

Direktur Utama PHR Jaffee Arizon Suardin menambahkan penjelasan mengenai PHR yang juga sebagai Regional 1-Sumatera di Subholding Upstream Pertamina bahwa PHR, selain mengelola blok Rokan, juga mengelola seluruh blok atau wilayah kerja Pertamina di Sumatera.

"Kita ingin tumbuh secara signifikan dan sustainable dengan fokus pada semua potensi yang masih bisa dikembangkan. Business Continuity untuk mempertahankan bahkan meningkatkan produksi serta safety dan reliability tetap menjadi yang utama dalam melaksanakan pekerjaan," katanya.