Cuitan Fahri Hamzah pun mendapat banyak tanggapan dan followernya. Ada yang mengungkapkan kesedihan karena rindu dengan sosok Soeherto

Seratus tahun yang lalu, tepatnya 08 Juni 1921, di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta telah lahir seorang bayi dari pasangan Sukirah dan Kertosudira yang kemudian diberi nama Soeharto. Sosok ini kemudian menjadi pemimpin Indonesia dengan membawa banyak perubahan.

Soeharto meninggal dunia pada 27 Januari 2008 usai menjalani perawatan selama 23 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan. Saat itu, diketahui Soeharto mengalami kegagalan multiorgan. Soeharto dimakamkan di Astana Giribangun yang berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Hari ini, 08 Juni 2021, masyarakat Indonesia kembali diingatkan akan sosok Soeharto. Hal tersebut diketahui dari banyaknya unggahan terkait sosok Soharto dalam berbagai bentuk, seperti potongan tulisan, foto, hingga video. Pemilik akun bukan hanya masyarakat umum, melainkan juga para pejabat publik dan setiap unggahan mendapat tanggapan beragam.

Mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang kini menjabat Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah juga turut mengunggah tulisan singkat terkait sosok Soeharto di akun  pribadinya, #FahriHamzah2021 @Fahrihamzah, Selasa (08/06/2021).

"Hari ini tepat HUT pak Harto ke #100TahunPakHarto . Saya tidak pernah jumpa beliau. Tapi saya pernah demonstrasi sampai beliau mundur 21 Mei 1998. Pak Harto adalah tokoh besar yg mentranformasi negara kita menjadi kekuatan yg disegani. Hari ini kita mengheningkan cipta," cuit Fahri Hamzah sambil menyematkan foto Soeharto dengan Wakil Presiden BJ Habibie (saat itu).

Cuitan Fahri Hamzah pun mendapat banyak tanggapan dan followernya. Ada yang mengungkapkan kesedihan karena rindu dengan sosok Soeherto, ada juga yang bertanya apakah HFahri Hamzah tidak menyesal sudah ikut berdemo untuk melengserkan kepemimpinan Soeharto pada Mei 1998 silam.

Kim®o$$o dengan akun @praburosso berkomentar, "Saya juga demo di Jakarta berpindah-pindah tempat, semua hanya 1 keinginan terwujudnya reformasi. Dan melihat kondisi sekarang dengan semakin hancurnya tatanan kehidupan, SAYA MENANGIS BANG. Pak Harto... Maafkan saya Jendral. Syurga InsyaAllah tempatmu. Aamiin."

Berikut beberapa komentar lain yang sempat dikumpulkan bizlaw.id : Dirwan Rosdi - @Dirwan_Rosdi : Setelah lengsernya Pak Harto, adakah pencapaian yg didapat sesuai cita2 reformasi ? Menyesalkah sudah menjatuhkan Pak Harto ?? Semua sudah berlalu, tapi setidaknya masih ada cara untuk mengahargai beliau menjadikannya sebagai pahlawan dan melanjutkan perjuangannya untuk negeri

AL - @alyuwaini : Ngak ngerasa nyesal udah ikut lengserkan Pak Harto bang 
@Fahrihamzah?

Pengamat Kritik - @Alexander_Indo : Aku juga pernah demontrasi tahun 98 krn dihasut oleh mereka yg tdk suka dgn Kepimpinan Beliau. Ternyata NKRI Lebih Kuat, Hebat dan Maju disegala lini disaat Beliau jadi Pemimpin. Kini baru kusadari  "Ternyata Bahagia terasa saat Bahagia telah tiada" Al Fatihah utk beliau. Aamiiin

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Fadli Zon mengunggah foto dirinya saat sedang bersama Soeharto dengan pengantar tulisan singkat di akun pribadinya @fadlizon. 

"Mengenang Pak Harto 100 Tahun, 8 Juni 1921-8 Juni 2021. Bapak Pembangunan Indonesia.Pak Harto juga orang yang menyelamatkan Indonesia dari komunisme tahun 1965-1966. Semoga diberi tempat terbaik di sisi Allah SWT. al Fatihah. Foto kenangan dg P Harto hasil jepretan P Moerdiono."

Unggahan Fadli Zon juga mendapat banyak tanggapan beragam dari followernya. Beberapa di antaranya adalah:

IPONK - @Yudaper05 : kita jadi menyesal dulu menurunkan beliau. dikira beliau turun jabatan akan makmur dan bebas kkn ternyata sekarang lebih parah. dan parahnya lagi pki sekarang kayak mau bangkit lagi

Soleh Amini Yahman - @Sonyyahman : Saya kangen pak Harto. Saya berterima kasih kpd pak Harto, semasa kuliah S1 sy mrndapat beasiswa dari yayasan supersemar yg  dipimpin pak Harto. Semoga Allah menempatkan bapak Suharto di syurga

Mantan Kepala Staf Umum TNI yang sekarang menjabat Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), Letnan Jenderal (Purn) Suryo Prabowo tidak ketinggalan juga turun mengunggah hal yang berkaitan dengan 100 tahun Soeharto di akun pribadinya. Tak banyak, Suryo Prabowo hanya mengunggah image yang berkaitan dengan 100 Tahun Soeharto serta komentar sangat singkat, "Jaman normal."

Unggahan Suryo Prabowo ini juga banyak mendapat tanggapan dari followernya. Umumnya berkomentar tentang kerinduan akan sosok Soeharto.

Soeharto merupakan Presiden Indonesia yang paling lama menjabat, yakni selama 32 tahun. Soeharto memulai kariernya di dunia militer pada tahun 1942 saat diterima menjadi tentara KNIL. 

Saat Belanda hengkang dari Indonesia, Soeharto bergabung dengan PETA, kesatuan militer bentukan Jepang di Indonesia. Dari sana, Soeharto terus melanjutkan kariernya di militer hingga Indonesia merdeka.

Karier Soeharto mulai terlihat saat situasi politik Indonesia yang bergejolak di tahun 1965. Ia pun ditunjuk sebagai pejabat presiden lewat Sidang Istimewa MPR pada 7 Maret 1967 dan terpilih menjadi presiden oleh MPR lewat hasil pemilu. Berdasarkan hasil Sidang Umum MPRS pada 27 Maret 1968, Soeharto pun menjadi presiden. Setelahnya, ia terus menjabat sebagai orang nomor 1 di Indonesia sampai 32 tahun.

Meski dianggap sukses memimpin Indonesia, ada juga kelompok oposisi yang mengecilkan arti dan hasil pembangunan yang telah dilaksanakan pemerintahan Orde Baru kala itu. Karena itu, Ali Moertopo yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan mengambil inisiatif sendiri.

Ia merencanakan untuk memberikan penghargaan kepada Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Indonesia. Kemudian, pada 12 Maret 1981 Ali Moertopo mengumpulkan bawahannya dalam rapat kerja khusus Departemen Penerangan. Rapat itu membahas secara khusus pemberian gelar kepada Soeharto.

Pada akhir 1981, bersama sejumlah artis film yang baru menghadiri Festival Film Indonesia (FFI), Ali Moertopo selaku Menteri Penerangan berkunjung ke Jawa Timur. Kedatangannya disambut meriah oleh warga. Pada kesempatan itu, di mana-mana terpancang spanduk bergambar hasil-hasil pembangunan serta lukisan wajah Presiden Soeharto, di bawah gambar tersebut terdapat tulisan “Bapak Pembangunan Nasional”.

Akibat krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak pertengahan 1997, masa kekuasaan Soeharto mulai terkikis. Ketika krisis menghantam, Soeharto tak berkutik. Indonesia bahkan harus menerima bantuan IMF untuk memulihkannya. Dalam masa-masa itu, Soeharto mencoba mewujudkan tuntutan reformasi dengan membentuk Komite Reformasi dan merombak kabinet. 

Namun, semua usaha itu sia-sia. Tuntutan agar Soeharto mundur terus bergema, bahkan berujung pada demonstrasi, terlebih para mahasiswa yang disebut sebagai ujung tombak perlawanan. Empat nyawa mahasiswa melayang akibat ditembak aparat. Demo pun semakin meluas dan memburuk. 

Peristiwa Mei 1998 menjadi catatan kelam sejarah Indonesia. Soeharto akhirnya mundur pada 21 Mei 1998, bertepatan dengan 70 hari setelah ia terpilih menjadi presiden untuk ketujuh kalinya. Ia digantikan oleh wakilnya, BJ Habibie. Orde Baru berakhir.