Di tengah merosotnya harga mata uang kripto, sejumlah koin digital itu, mampu bertahan di zona hijau. Apa saja?

Ya, sebut saja, Theta Fuel yang meroket 74,5 persen dalam sepekan terakhir dan Solana meningkat 35,85 persen dalam periode yang sama. Dilansir coinmarketcap.com, Rabu (9/6), harga kripto Theta Fuel dibanderol US$0,61 dan harga koin digital Solana dipatok US$41,44. Masing-masing kripto tersebut naik 18,94 persen dan 7,86 persen dalam 24 jam terakhir.

Theta Fuel menduduki peringkat ke-30 di antara mata uang kripto lainnya di coinmarketcap. Theta Fuel adalah token kedua di blockchain Theta. Koin digital ini didirikan oleh Mitch Liu dan Jieyi Long pada 2017. Sementara, Solana adalah proyek open source yang menggunakan teknologi blockchain penyedia solusi keuangan terdesentralisasi. Solana terbilang baru. Kripto ini diluncurkan pada Maret 2020 oleh Solana Foundation yang bermarkas di Jenewa.

Selain kedua kripto di atas, koin digital lain yang berhasil bertahan di zona hijau adalah Tether. Kripto ini naik tipis 0,06 persen dalam 24 jam terakhir atau 0,13 persen dalam sepekan terakhir. Kemudian ada USD Coin dan Binance USD yang masing-masing meningkat 0,03 persen dan 0,05 persen dalam 24 jam terakhir. Lalu, Dai naik 0,06 persen dan Kusama meningkat 3,33 persen. Sementara itu, mata uang kripto terpopuler dengan kapitalisasi pasar besar, yakni Bitcoin jatuh 9,05 persen dalam sepekan. Begitu pula dengan Ethereum yang turun 4,57 persen dan Dogecoin rontok 12,11 persen.

Di Indonesia, aset kripto masih dilarang sebagai alat bayar dan dianggap sebagai komoditas bursa berjangka, sehingga tak masalah selama digunakan sebagai investasi maupun komoditas yang diperjualbelikan oleh para pelaku pasar.