Ivermectin belum bisa dan cenderung tidak efektif untuk mengobati Covid-19, bahkan India baru saja menghapus Ivermectin dari daftar pengobatan Covid-19.

Belakangan ramai diberbincangkan terkait obat Ivermectin, obat yang dipakai dan diklaim oleh KSP Moeldoko ampuh tangkal Covid-19. BPOM RI masih melakukan uji klinik terkait obat yang termasuk dalam kategori obat keras ini.

Ketua Satuan Gugus Tugas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban mengemukakan pandangannya, terkait obat tersebut dalam akun twitternya.

Ia mengatakan, Ivermectin belum bisa dan cenderung tidak efektif untuk mengobati Covid-19, bahkan India baru saja menghapus Ivermectin dari daftar pengobatan Covid-19.

"Singkatnya obat ini adalah untuk mengobati infeksi cacing gelang di dalam tubuh manusia. Ivermectin masuk golongan antihelmintik yang kadang dipakai mengatasi scabies atau kudis dan hanya diresepkan dokter," kata dia seperri dikutip Sabtu (12/6/2021).

Lanjut Zubairi dikutip Tribunnews, Ivermectin populer disebut-sebut sebagai obat yang dapat menghambat perkembangan SARS-CoV-2, lantaran ada studi di Australia yang mengklaim bahwa obat ini bekerja dengan cara menghambat protein yang membawa virus penyebab Covid-19 ke dalam inti tubuh manusia.

"Hal ini yang kemudian diyakini bahwa Ivermectin mencegah penambahan jumlah virus di tubuh sehingga infeksi tidak makin parah. Persoalannya studi ini baru dilakukan terhadap sel-sel yang diekstraksi di laboratorium. Uji coba Ivermectin pada tubuh manusia belum dilakukan," jelas Guru Besar FKUI ini.

Kemudian, studi berikutnya adalah di Bangladesh, yang juga mengklaim Ivermectin dapat mempercepat proses pemulihan pasien Covid-19. Tapi penelitinya pun menyatakan terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Ivermectin efektif untuk pengobatan Covid-19.

"Lalu bagaimana Ivermectin di Eropa dan Amerika? Yang jelas, European Medicines Agency (EMA) dan Food and Drug Administration (FDA) belum mengizinkan Ivermectin digunakan untuk mengobati Covid-19," kata Zubairi.

Ia menuturkan, EMA sendiri telah meninjau beberapa studi terkait penggunaan Ivermectin.
Mereka menemukan kalau obat ini memang dapat memblokir replikasi SARS-CoV-2. Tapi pada konsentrasi Ivermectin yang jauh lebih tinggi daripada yang dicapai dengan dosis yang diizinkan saat ini.

Pada kesimpulannya, EMA menyatakan bahwa sebagian besar studi yang ditinjau memiliki keterbatasan. Mereka belum menemukan bukti cukup untuk mendukung penggunaan Ivermectin pada Covid-19 di luar uji klinis.
Kalau FDA, pada beberapa pernyataannya mengingatkan bahwa dosis besar dari Ivermectin itu berbahaya. Apalagi jika berinteraksi dengan obat lain seperti pengencer darah, dan bisa menyebabkan overdosis.

"Prinsipnya, studi Ivermectin sebagai obat Covid-19 masih sangat terbatas dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Pun, bisa saja nanti Ivermectin digunakan ketika studi terbaru menemukan bukti yang cukup. Kan tidak menutup kemungkinan itu juga," terang Prof.Zubairi.

Moeldoko dan Ivermectin 

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengaku pernah mengonsumsi Ivermectin yang diklaim sebagai obat untuk melawan virus covid-19. Moeldoko mengklaim tak ada efek negatif selama mengonsumsi ivermectin.

Selain itu, Ivermectin yang dipelopori Moeldoko mulai dipakai di Kudus, Jawa Tengah yang telah dinyatakan sebagai zona merah.

"Saya sudah menggunakan beberapa kali, nggak ada masalah, dan saya sehat-sehat saja," ujar Moeldoko di Jakarta, Sabtu (12/6).

Moeldoko mengklaim ivermectin tak membawa risiko kematian dan masih digunakan di sejumlah negara.
"Kita melihat beberapa negara yang sudah gunakan itu dan berhasil. Pada satu sisi kita menghadapi situasi di mana peningkatan itu muncul, apakah kita harus diam?" tuturnya.

Ia tak mempersoalkan kebijakan pemerintah India yang menarik penggunaan Ivermectin di beberapa negara bagian.

Mantan Panglima TNI itu menilai, keberadaan obat itu justru menjadi upaya untuk melawan kasus covid-19 di Indonesia yang terus meningkat.

"Jadi kita lihat positifnya, jangan kita lihat negatifnya karena kita saat ini menghadapi sebuah situasi yang cukup emergency untuk ditangani itu ya," ucap Moeldoko.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelumnya telah mengingatkan bahaya Ivermectin yang telah mulai disebar ke beberapa daerah.

Ivermectin disebut terdaftar di Indonesia untuk indikasi infeksi kecacingan dan diberikan dalam dosis tunggal serta pemakaian setahun sekali.

Ivermectin termasuk jenis obat keras, sehingga pembeliannya harus dengan resep dokter dan penggunaannya di bawah pengawasan dokter.

Sebagai tindak lanjut untuk memastikan khasiat dan keamanan penggunaan Ivermectin dalam pengobatan COVID-19, di Indonesia akan dilakukan uji klinik di bawah koordinasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, dengan melibatkan beberapa Rumah Sakit.

BPOM RI juga mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan jenis obat tersebut dengan bebas. Pembelian dan konsumsi Ivermectin harus disertai resep dokter.

"Untuk kehati-hatian, Badan POM RI meminta kepada masyarakat agar tidak membeli obat Ivermectin secara bebas tanpa resep dokter, termasuk membeli melalui platform online," kata BPOM dalam rilis tertulisnya.

BPOM menegaskan, penjualan obat Ivermectin termasuk melalui online tanpa ada resep dokter dapat dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.