Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono disebut sebagai calon kuat pucuk pimpinan TNI.

Suksesi kepemimpinan di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI) muncul jelang Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pensiun November makin panas. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Andika Perkasa dan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono disebut sebagai calon kuat pucuk pimpinan TNI.

Dikutip Katadata.co.id, berdasarkan informasi yang beredar, nama Andika dikabarkan menguat dalam bursa calon Panglima TNI. Menantu eks Kepala Badan Intelijen Negara Abdullah Mahmud Hendropriyono itu akan segera diajukan Presiden Joko Widodo ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan.

Meski demikian belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah mengenai hal ini. Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman serta Juru Bicara Menteri Pertahanan Dahnil Anzar Simanjuntak belum memberikan tanggapan.

Sedangkan Anggota Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat Bobby Rizaldi mengatakan akan mendukung calon panglima pilihan Jokowi. Meski demikian ia menyoroti kemungkinan adanya dua sampai tiga kali suksesi Panglima TNI hingga 2024 lantaran usia masing-masing Kepala Staf telah mendekati pensiun.

Jenderal Andika saat ini berusia 56 tahun dan akan memasuki usia pensiun 2022, sedangkan Yudo dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Fadjar Prasetyo akan pensiun 2023.

“Di mana masa jabatan yang terlalu singkat dalam organisasi militer tidak ideal,” kata Bobby dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (16/6).

Meski demikian ia menilai seluruh Kepala Staf TNI memiliki rekam jejak yang mumpuni. “Presiden juga akan memiliki pertimbangan terbiak,” kata politisi Partai golkar tersebut.

Sebelum menjabat sebagai KSAD, Andika sempat Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad). Ia juga pernah menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden pada 2014 hingga 2016.

Adapun Yudo sebelum menjadi KSAL adalah Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I. Ia juga pernah menjadi Panglima Komando Armada I yang mengawasi wilayah barat Indonesia.

Jatah TNI AL

Koordinator Peneliti Imparsial, Ardi Manto Adiputra, meminta Presiden Joko Widodo memperhatikan beberapa hal sebelum memutuskan pengganti Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai panglima TNI. Mulai dari rotasi antarmatra, hingga antisipasi kepentingan politik.

Ardi mengatakan Pasal 13 ayat (4) Undang-Undang TNI mengamanatkan jabatan panglima dijabat secara bergantian antarmatra. Jika saat ini Hadi berasal dari Angkatan Udara dan pendahulunya, Gatot Nurmantyo, dari Angkatan Darat maka panglima berikutnya seharusnya dari Angkatan Laut.

"Prinsip rotasi ini penting untuk dilakukan untuk memperkuat soliditas antarmatra TNI dan tidak ada di antara matra TNI tersebut yang merasa di-anak tiri-kan," kata Ardi dikutip Tempo.

Prinsip rotasi, kata dia, diperlukan untuk memperkuat profesionalisme TNI di masa yang akan datang.

"Pilihan matra Angkatan Laut juga sejalan dengan rencana presiden untuk penguatan ketahanan maritim Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia," ucap Ardi.