WHO bahkan mendesak pemerintah Indonesia untuk memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyoroti peningkatan kasus positif Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 di Indonesia yang dipicu oleh varian-varian baru. WHO bahkan mendesak pemerintah Indonesia untuk memperketat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dalam laporan situasinya, WHO mencatat bahwa peningkatan drastis tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit atau Bed Occupancy Ratio (BOR) telah menjadi kekhawatiran besar, dan memerlukan penerapan langkah-langkah kesehatan dan sosial masyarakat yang lebih ketat, termasuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Dengan meningkatnya penularan karena variants of concern, diperlukan tindakan segera untuk mengatasi situasi di banyak provinsi," kata WHO dalam laporan situasinya pada Kamis (17/06/2021) yang diberitakan Associated Press, Jumat (18/06/2021).

Lonjakan infeksi COVID-19 telah terlihat minggu ini di provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Semuanya berlokasi di Jawa, pulau terpadat di Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengungkapkan tiga varian baru COVID-19 telah ditemukan di wilayah Jakarta. Tiga varian tersebut adalah Alpha, yang ditemukan pertama kali di Inggris; Beta di Afrika Selatan; dan terakhir, varian Delta di India.

"Ada tiga varian yang ditemukan di Jakarta, (yaitu) Alpha, Beta, dan Delta," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta Widyastuti kepada wartawan di Kantor Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (14/06/2021).

Diketahui 19 kasus varian baru COVID-19 telah masuk ke Ibu Kota. Sebagian besar dari mereka yang terpapar virus tersebut adalah pekerja migran. Widyastuti menyebut 5 dari 19 orang tersebut merupakan warga negara Indonesia. Saat ini kelima orang tersebut telah dinyatakan sembuh. 

Kasatgas IDI: Lakukan Lockdown Sebelum Telat!

Ketua Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Zubairi Djoerban, menjadi satu pakar kesehatan yang mengkhawatirkan kondisi lonjakan kasus positif COVID-19 di Indonesia.

Zubairi Djoerban berharap, data yang tersaji adalah gambaran pandemi yang mesti disikapi secara serius oleh pemerintah. Ia meminta agar pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak memikirkan kebijakan selain penanganan COVID-19. 

Bahkan, Zubairi Djoerban kembali menyampaikan sarannya agar pemangku kebijakan mengambil langkah penguncian atau lockdown dalam menekan lonjakan yang ada.

"Saya kembali ulangi saran saya: lockdown. Semua liburan dan perjalanan tidak penting harus dihentikan sejenak. Apalagi mempertimbangkan sekolah tatap muka dibuka kembali. Jangan dulu," ujar Zubairi Djoerban dalam akun Twitternya, Jumat (18/06/2021).

"Lakukan lockdown sebelum telat. Situasi bisa berubah jadi mengerikan," demikian Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menegaskan.