Adelin Lis bahkan telah memesan tiket ke Medan untuk penerbangan pada tanggal 18 Juni 2021.

Kejaksaan Agung (Kejagung) RI berhasil memulangkan buron kakap kasus pembalakan liar, Adelin Lis dari Singapura ke Indonesia pada Sabtu (19/06) malam. Pesawat yang membawa Adelin Lis terbang dari Bandar Singapura pada pukul 18.40 waktu Singapura.

Adelin Lis tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang sekira pukul 19.40 WIB dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 837.

Jaksa Agung, Sanitar Burhanuddin bersyukur dapat membawa pulang Adelin Lis kembali ke Indonesia setelah buron sekitar 13 tahun. "Kita Alhamdulillah bersyukur, terpidana Saudara Adelin Lis dapat kita bawa ke sini," kata Sanitar.

Adelin Lis ditangkap di Singapura pada 4 Maret 2021 karena pemalsuan paspor atas nama Hendro Leonardi. Sidang di Singapura menjatuhi hukuman kepada Adelin Lis berupa denda 14.000 dolar Singapura atau sekitar Rp140 juta dan dideportasi dari Singapura.

Sejak 14 Juni 2021 pemerintah Indonesia melalui Kejaksaan Agung berupaya untuk memulangkan Adelin Lis ke Jakarta guna menjalani eksekusi atas kejahatan yang dilakukannya.

Pada 16 Juni 2016 Jaksa Agung Burhanuddin bersurat kepada Jaksa Agung Singapura yang pada pokoknya adalah Adelin Lis buronan kejaksaan berisiko tinggi, diminta untuk dipulangkan dengan pesawat sewaan dari kejaksaan atau pesawat komersial Garuda Indonesia.

Namun, pihak Kementerian Luar Negeri Singapura pada 16 Juni 2016 tidak memberikan izin untuk penjemputan secara langsung. Sesuai dengan aturan hukum Singapura, Adelin Lis hanya akan dideportasi dengan menggunakan pesawat komersial.

Di sisi lain, Kendrik Ali (putra Adelin Lis) melalui kantor pengacara Parameshwara and Partner telah menyurati Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara agar ayahnya diizinkan untuk pulang sendiri ke Medan dan akan datang ke Kejaksaan Negeri Medan. Adelin Lis bahkan telah memesan tiket ke Medan untuk penerbangan pada tanggal 18 Juni 2021.

Sebelumnya, Kapuspenkum Kejagung, Leonard Eben Ezer mengatakan, pihaknya telah menyiapkan tiga skenario pemulangan. Skenario pertama, menjemput Adelin Lis di Singapura menggunakan pesawat carter. "Skenario yang pertama: kita lakukan penjemputan dengan melakukan penjemputan pesawat carter," kata Leonard.

Skenario kedua menjemput Adelin Lis dengan menggunakan pesawat komersial Garuda Indonesia. Namun dua skenario penjemputan Adelin Lis itu belum membuahkan hasil.

"Skenario kedua: pengembalian melalui pesawat komersial melalui pesawat Garuda Indonesia. Dan waktu penjemputan diperkirakan dari tanggal 14 sampai 20 Juni 2021. Upaya pengembalian ini masih belum membuahkan hasil," ujarnya.

Skenario ketiga, Jaksa Agung ST Burhanuddin meminta KBRI di Singapura menahan surat perjalanan laksana paspor (SPLP) Adelin Lis. Penahanan itu dilakukan agar Adelin Lis tak pergi ke mana pun sebelum mendapat kepastian perihal penjemputan. Sebab, Adelin Lis merupakan buron berisiko tinggi.

"Ketiga sebagai langkah melaksanakan kedaulatan hukum Indonesia Bapak Jaksa Agung meminta pihak KBRI Singapura untuk SPLP, surat perjalanan laksana paspor itu, tidak diserahkan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan atau kepada otoritas imigrasi di Singapura sebelum dapat kepastian mengenai penjemputan dan jaminan keamanan yang memenuhi kelayakan pemulangan buron kejaksaan berisiko tinggi tersebut," papar Leonard.

Adelin Lis merupakan buronan kasus pembalakan liar sejak 2008 namanya masuk dalam daftar red notice Interpol.

Adelin Lis akan menjalani eksekusi atas putusan Mahkamah Agung yang menjatuhkan pidana penjara 10 tahun dan denda Rp1 miliar subsidair 6 bulan kurungan dengan denda uang pengganti Rp119,8 miliar dan dana reboisasi 2,839 juta dolar AS.

Sebelum dieksekusi, Adelin Lis menjalani masa isolasi selama 14 dan ditahan di Rumah Tanahan Negara (Rutan) Salemba Cabang Kejaksaan Agung.