Fokus utama di antaranya terkait pendanaan yang lebih baik untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Termasuk memanfaatkan lembaga multilateral seperti Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk 'perang' melawan pandemi

Pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 seperti saat ini, bukan pandemi terakhir di muka bumi. Pandemi global berikutnya akan terjadi lagi, kapan saja dan dunia harus bersiap sejak sekarang.

Hal ini diutarakan Menteri Senior Singapura, Tharman Shanmugaratnam. Menurut Tharman, pencegahan terhadap pandemi global berikutnya harus dilakukan.

"Kita tidak memiliki kemewahan menunggu COVID-19 berakhir, sebelum memulai mempersiapkan pandemi berikutnya. Karena, pandemi lain bisa datang kapan saja," kata Tharman saat diwawancarai di KTT G-20 Italia, dikutip CNBC International, Selasa (12/07/2021).

"Jadi kita harus menggunakan upaya saat ini untuk mengatasi Covid, juga membangun kapasitas yang dibutuhkan untuk mencegah pandemi berikutnya."

G-20 sendiri telah merilis laporan terkait langkah mencegah wabah di masa depan. Tharman menjadi ketua panel bersama mantan Menteri Keuangan AS Larry Summers dan Dirjen Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala.

Fokus utama di antaranya terkait pendanaan yang lebih baik untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Termasuk memanfaatkan lembaga multilateral seperti Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk 'perang' melawan pandemi.

Saat ini, kata Tharman, sistem internasional untuk menanggapi pandemi terpecah-pecah dan kurang dana. Untuk menutup celah itu, panel telah mengusulkan pembentukan dana global baru dengan minimal US$ 10 miliar per tahun.

"Jadi, apa yang kurang hari ini dalam sistem global adalah memiliki tata kelola kesehatan di bawah Majelis Kesehatan Dunia dan WHO, (tapi) Anda tidak memiliki sistem yang menyatukan keuangan dengan kesehatan," kata Tharman.

"Dan itulah mengapa sistem ini kekurangan dana. Bereaksi setelah peristiwa-setelah krisis pecah- dan tidak dapat secara proaktif mencegah krisis di masa depan."

Saat ini pandemi COVID-19 memang menjadi momok global, bahkan menghancurkan ekonomi seiring pembatasan sosial dan penguncian sejumlah negara. Dari data Worldometers, COVID-19 sendiri sudah menginfeksi total 186 juta orang di dunia dan menyebabkan 4 juta kematian.