Dicky Budiman juga meyakini, Luhut akan mengevaluasi kebijakannya yang selama ini tidak tepat. Dia ingin, Luhut mengambil pelajaran agar tak salah membuat keputusan berikutnya

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman meminta, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan tak menutupi data penanganan Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19. 

"Kalau ada data, angka itu kan netral tapi di balik angka itu ada sisi positif dan negatif. Dan keduanya itu yang harus dicari dan harus disampaikan agar publik dan semua pihak menyadari situasi yang sebenarnya dari pandemi ini," kata Dicky Budiman, Kamis (15/07/2021).

Dicky Budiman berharap, Luhut dapat menjalankan tugasnya sebagai Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali dengan baik. Dia tak sepakat bila Luhut harus digantikan dalam waktu dekat ini. Sebab situasi tengah genting sehingga perubahan kepemimpinan malah akan mengganggu kerja hingga level bawah.

"Gimana pun harus tetap ada yang nge-lead ini, plus minusnya selalu ada. Tapi saya melihat sekarang dalam situasi genting banget gini enggak ada waktu ganti-ganti orang dan ubah-ubah organisasi, kita perlu orang yang bisa memerintahkan atau menjadi komandan di saat sangat kritis begini," ujarnya.

Dicky Budiman juga meyakini, Luhut akan mengevaluasi kebijakannya yang selama ini tidak tepat. Dia ingin, Luhut mengambil pelajaran agar tak salah membuat keputusan berikutnya. 

"Mudah-mudahan dengan situasi terkini beliau sudah semakin paham. Beliau sampaikan begitu karena suplai infonya, beliau bukan ahli kesehatan," ucap Dicky.

Sebelumnya, Luhut memastikan, penanganan COVID-19 masih terkendali pada awal pekan ini (12/07/2021). Bahkan koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali itu menantang siapa pun yang menuding pemerintah tak bisa mengendalikan COVID-19 agar datang menemuinya.

Luhut yakin kondisi penanganan COVID-19 di lapangan akan membaik dalam 4-5 hari ke depan. Pernyataannya ini berdasarkan sejumlah upaya yang sudah dilakukan pemerintah, di antaranya menambah RS darurat, menambah fasilitas isolasi terpusat, menambah pasokan oksigen bahkan impor, mempercepat laju vaksinasi, hingga pembagian paket obat gratis bagi pasien COVID-19 melalui TNI.