Infrastruktur penunjang merupakan bagian dari infrastuktur dasar dan konektivitas yang berperan dalam meningkatkan minat investasi di Kawasan Industri

Pemerintah terus melaksanakan upaya pembangunan Kawasan Industri sebagai pendongkrak spesialisasi produksi serta pendorong persaingan pertumbuhan industri pada suatu wilayah. Sementara itu, ketersediaan infrastruktur dasar dan konektivitas menjadi hal yang sangat esensial bagi investor dalam meningkatkan investasi pada Kawasan Industri.

Salah satu upaya yang telah dilakukan Pemerintah yakni dengan menetapkan Kawasan Industri Konawe sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional melalui Perpres No. 109 Tahun 2020. Kawasan Industri yang terletak di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan luasan 2.253 Ha dan realiasi luasan 1.465 Ha ini didukung bersama-sama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan perekonomian khususnya di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan hasil koordinasi dan evaluasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama instansi terkait, dalam pelaksanaan pembangunan Kawasan Industri Konawe masih terdapat beberapa permasalahan terkait ketersediaan dan kualitas infrastruktur. Permasalahan tersebut diantaranya kebutuhan perbaikan dan peningkatan kualitas jalan, kebutuhan air baku, pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), penambahan jaringan telekomunikasi, serta pembangunan rumah tapak dan sarana pendidikan. Permasalahan tersebut akan ditindaklanjuti dengan dukungan infrastruktur dari Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR).

Guna meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas, pada Kawasan Industri Konawe telah dibangun infrastruktur pelabuhan berupa Kendari New Port yang dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia IV. Pembangunan pelabuhan yang mencakup fasilitas dermaga pelabuhan, reklamasi dan pembangunan lapangan penumpukan, serta pembangunan perkantoran telah selesai dilaksanakan secara keseluruhan.

“Infrastruktur penunjang merupakan bagian dari infrastuktur dasar dan konektivitas yang berperan dalam meningkatkan minat investasi di Kawasan Industri. Hal ini juga mendukung efisiensi sistem logistik dalam jangka panjang. Dengan daya tarik investasi yang tinggi, pengelola Kawasan Industri akan mendapatkan kemudahan dalam mengakses sumber pembiayaan,” ujar Asisten Deputi Penguatan Daya Saing Kawasan Kartika Listriana mewakili Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Wahyu Utomo, dalam rapat terkait Percepatan Infrastruktur Penunjang di Kawasan Industri Konawe dan Kendari New Port , Kamis (1/7) di Sulawesi Tenggara.

Sebagai bagian dari peningkatan aksesibilitas antara Kawasan Industri Konawe dan Kendari New Port dan Bandara Haluoleo, telah dibangun Jalan Lingkar Kota Kendari sejak tahun 2015. Kendati telah memasuki tahun ke-6 sejak terbangun, hingga kini Jalan Lingkar Kota Kendari masih dalam proses MOU penyelesaian pembangunan trase jalan antara Kementerian PUPR dengan Pemerintah Kota Kendari.

Hal ini menjadi perhatian bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, karena dengan beroperasinya Kendari New Port dan didukung oleh jaringan jalan akses yang baik, peran Kawasan Industri Konawe dalam pertumbuhan perekonomian setempat akan lebih optimal, serta dapat meningkatkan daya tarik para investor untuk berinvestasi.