Shaheen juga menegaskan bahwa Taliban tidak akan memiliki hubungan dengan Israel.

Taliban mengaku siap menjalin kerja sama dan membangun dialog dengan negara-negara lain di dunia termasuk Amerika Serikat (AS), namun tidak akan membangun hubungan dengan sekutu dekat AS, Israel.

Juru Bicara Taliban, Suhail Shaheen kepada Sputnik News pada Selasa (07/09) memgatakan, Taliban siap menjalin hubungan dengan Washington yang melayani kepentingan Afghanistan dan AS.

Dia juga mengungkapkan kemungkinan keterlibatan AS dalam rekonstruksi negara itu. "Dan jika mereka ingin berpartisipasi dalam rekonstruksi Afghanistan, mereka dipersilakan," kata Shaheen.

Shaheen menuturkan Taliban tetap ingin mempertahankan dialog dengan negara-negara tetangga Afghanistan.

"Kami ingin memiliki hubungan dengan semua negara regional dan negara tetangga serta negara-negara Asia," katanya.

Shaheen juga menegaskan bahwa Taliban tidak akan memiliki hubungan dengan Israel.

"Tentu saja, kami tidak akan memiliki hubungan dengan Israel. Kami ingin memiliki hubungan dengan negara lain, Israel tidak termasuk di antara negara-negara ini," kata Shaheen.

Meski menyatakan Taliban tak mau berurusan dengan Israel, Shaheen sempat menjadi sorotan karena diwawancara salah satu media negara Zionis tersebut, yaitu Kan Israel.

Times of Israel melaporkan, Shaheen mengaku tak tahu bahwa dia diwawancara media Israel. Ketika itu, penyiar berita,Roi Kais menyebut nama medianya. Namun, ia tak memberi tahu Shaheen bahwa dia adalah orang Israel.

Video wawancara tersebut lalu tersebar luas di media sosial. Shaheen kemudian membantah melalui akun Twitter-nya. Ia mengakui memang sudah melakukan banyak wawancara usai Afghanistan jatuh ke tangan Taliban.

"Beberapa jurnalis mungkin menyamar, tetapi saya belum melakukan wawancara dengan siapa pun yang memperkenalkan dirinya dari media Israel," tulisnya.

Taliban memang kerap menggunakan narasi anti-Israel dalam propagandanya. Mereka pun tetap memunculkan narasi serupa setelah merebut kekuasaan di Afghanistan pada 15 Agustus lalu.

Setelah merebut kekuasaan, Taliban mengumumkan pemerintahan interim pada Selasa (7/9). Taliban menunjuk Mohammad Hassan Akhund sebagai perdana menteri, Abdul Ghani Barradar sebagai wakil perdana menteri, dan Sirajuddin Haqqani sebagai menteri dalam negeri.