Gelombang baru pandemi COVID-19 menghantui negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Masa puncak ketiga virus Corona atau COVID-19 berpotensi terjadi pada Desember 2021.

Singapura dilaporkan tengah melawan gelombang baru pandemi COVID-19. Gelombang keenam yang dimulai sejak 23 Agustus lalu sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 8.000 warga Singapura.

Secara mengejutkan, angka kasus harian COVID-19 menembus lebih dari 1.000 kasus tepatnya 1.009 kasus pada Sabtu (18/9/2021). Catatan empat digit kasus harian COVID-19 di Negeri Singa merupakan yang pertama kalinya sejak 23 April tahun lalu.

"Ini tidak mengejutkan karena dialami setiap negara misal Inggris dan Denmark yang melonggarkan kehidupan sosial serta memutuskan hidup berdampingan dengan virus Corona," kata Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung.

"Diperkirakan gelombang terbaru ini baru akan reda setelah 8 minggu atau menjelang akhir bulan Oktober," ucapnya.

Ia juga menyampaikan, penanganan COVID-19 Singapura telah dialihkan untuk difokuskan pada kasus bergejala berat yang memerlukan oksigen tambahan atau yang dirawat di ruang perawatan intensif (ICU)

Kebijakan ini seiring dengan tingginya angka vaksinasi COVID-19 di Singapura yang telah mencapai 84 persen, salah satu yang tertinggi di dunia.

Statistik menunjukan warga yang berusia lebih lanjut terutama yang belum divaksin tetap menjadi yang paling beresiko terpapar virus corona.

Kementerian Kesehatan Singapura menyampaikan statistik ini menjadi bukti nyata vaksin COVID-19 melindungi warga dari gejala parah dan kematian.


Gelombang baru pandemi COVID-19 di Indonesia

Gelombang baru pandemi COVID-19 menghantui negara-negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Masa puncak ketiga virus Corona atau COVID-19 berpotensi terjadi pada Desember 2021.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pola lonjakan kasus di Indonesia biasanya terjadi tiga bulan setelah negara-negara lain mengalami lonjakan kasus.

Oleh karena itu, Wiku meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus COVID-19 gelombang ketiga. "Kita harus waspada dan tetap disiplin protokol kesehatan agar kita tidak menyusul lonjakan ketiga dalam beberapa bulan ke depan," kata Wiku melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Wiku mengingatkan, peluang peningkatan kasus COVID-19 Indonesia bisa terjadi akibat dari tradisi berkumpul dalam acara besar dan libur panjang.

Secara lebih rinci epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko mengatakan, banyaknya relaksasi atau pelonggaran aktivitas selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) turut menyumbang potensi lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia terulang kembali, utamanya pada libur panjang Natal dan akhir tahun (Nataru) mendatang.

Menurut Miko, pelonggaran aktivitas saat PPKM diterapkan bakal jadi salah satu sebab puncak ketiga COVID-19 terjadi di Indonesia. "Mobilitas orang bepergian akan meningkat, sehingga risiko penularan COVID-19 juga ikut meningkat," katanya.

Kejar target capaian vaksinasi COVID-19
Selain itu, Miko juga memprediksi gelombang ketiga bakal jadi kenyataan jika capaian vaksinasi COVID-19 nasional tak sampai 50 persen pada akhir tahun 2021. Dengan kata lain, capaian vaksinasi tak sesuai target awal juga ikut berperan menyulut lonjakan kasus COVID-19.

"Saya perkirakan akan terjadi puncak ketiga itu kalau capaian vaksinasi tak sampai 50 persen dan banyak pelonggaran aktivitas seperti sekarang ini. Prediksi Desember-Januari itu kemungkinan puncak ketiganya," ungkap Miko.

Dari data Kemenkes per Selasa (21/P9) Pukul 12.00 WIB tercatat sebanyak 81.083.498 orang telah menerima suntikan dosis vaksin virus corona. Sementara baru 46.125.790 orang telah rampung menerima dua dosis suntikan vaksin COVID-19 di Indonesia.



Dengan demikian, target vaksinasi pemerintah dari total sasaran 208.265.720 orang baru menyentuh 38,93 persen dari sasaran vaksinasi yang menerima suntikan dosis pertama. Sedangkan suntikan dosis kedua baru berada di angka 22,15 persen.

Miko juga menegaskan tak hanya masalah vaksinasi COVID-19 yang bakal membuat RI kembali mengalami puncak. Puncak kasus juga ditengarai oleh lambatnya penelusuran kontak, dan rendahnya pengawasan saat pasien COVID-19 isolasi mandiri.

"Jadi ya memang bakal mengalami puncak lagi, kalau 3T lemah, vaksinasi enggak sampai 50 persen bakal lebih kecil, dan pembebasan aktivitas masyarakatnya keterlaluan," kata dia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PL) Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengklaim pemerintah sudah mewaspadai puncak gelombang ketiga COVID-19 pada Desember 2021. "Kita belum selesai pandeminya, jadi kita tetap waspada prediksi puncak kasus ketiga ini pada Desember 2021," kata Nadia.

Nadia juga mengklaim pemerintah sudah mengerahkan berbagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia. Selain penguatan tracing dan sistem ketahanan rumah sakit, Kemenkes juga berusaha meningkatkan capaian vaksinasi COVID-19 di berbagai daerah.

Dalam sepekan terakhir, Nadia menyebut Kemenkes telah menyuntikkan 10 juta dosis vaksin COVID-19. Sejauh ini, total 125,7 juta vaksin COVID-19 telah disuntikkan kepada masyarakat.

Sementara pemerintah melakukan penguatan-penguatan tersebut, masyarakat diminta tetap patuh pada protokol kesehatan dan menghindari bepergian agar mobilitas tak naik.



"Kalau ada pelonggaran aktivitas, mobilitas cenderung meningkat dan protokol kesehatan lengah sehingga risiko penularan terjadi menyebabkan ada lonjakan kasus," kata dia.