Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN, Erick Thohir menduga utang Holding Perkebunan Nusantara atau PTPN III (Persero) senilai Rp43 triliun disebabkan karena adanya korupsi terselubung. Ia pun berjanji akan membuka kasus tersebut.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN, Erick Thohir menduga utang Holding Perkebunan Nusantara atau PTPN III (Persero) senilai Rp43 triliun disebabkan karena adanya korupsi terselubung. Ia pun berjanji akan membuka kasus tersebut.

Dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (22/09), Erick mengungkap utang yang menggunung di BUMN kebanyakan adalah utang lama. Erick pun meminta dukungan parlemen untuk memastikan restrukturisasi utang yang dijalankan oleh sejumlah perusahaan plat merah tidak sekadar untuk menunda persoalan semata.

Erick mencontohkan, utang di PTPN yang mencapai Rp43 triliun sebagai penyakit lama, yang perlu diselesaikan dalam beberapa tahap. Dia pun mencium ada korupsi terselubung di balik utang jumbo tersebut.

"Ini merupakan penyakit lama, yang kami sudah tahu, dan ini suatu korupsi terselubung yang memang harus dibuka dan harus dituntut yang melakukan ini," kata Erick.

Merespons pernyataan Erick, PT PTPN III buka suara. Sekretaris Perusahaan Holding PTPN III, Imelda Alini mengatakan pernyataan Erick menggambarkan situasi PTPN sebelum transformasi. Dengan kata lain, praktik korupsi yang terselubung itu terjadi di masa lampau. "Itu maksud Pak Menteri (Menteri BUMN) untuk konteks lama sebelum transformasi," kata Imelda. 

Menurut Imelda seperti dikutip cnnindonesia, PTPN telah melakukan beragam transformasi bisnis. Proses transformasi itu juga didukung penuh oleh Erick. "Bahkan (Erick) menjadikan PTPN sebagai salah satu contoh BUMN yang sudah mulai menunjukkan hasil transformasi," katanya.

Hasil transformasi itu, sambung Imelda, terlihat dari pencapaian laba bersih PTPN sebesar Rp2,3 triliun pada Agustus 2021. Angka itu berbanding terbalik dari posisi Agustus 2020 yang rugi Rp1,6 triliun.

Selain itu, perusahaan juga merestrukturisasi utang pada semester I 2021. Restrukturisasi utang dilakukan dengan merelaksasi tenor dan bunga.

Selanjutnya, peran holding yang sebelumnya sebagai strategic holding, kini berubah menjadi operational holding.

Dengan demikian, fungsi utama dan perencanaan strategis, kebijakan komoditi, portofolio bisnis, pengembangan bisnis baru, pemasaran, inisiatif optimalisasi dan divestasi aset, pendanaan dan manajemen kas, serta sumber daya manusia dikendalikan sepenuhnya oleh holding.

"Anak perusahaan fokus kepada kegiatan operasional dengan pengawasan dan evaluasi kinerja oleh holding," terang Imelda.

Oleh karena itu, seluruh anak usaha PTPN hanya memiliki satu direksi sekarang. Sebelumnya, masing-masing anak usaha memiliki empat direksi.

"Struktur baru ini bertujuan untuk menciptakan soliditas organisasi yang kuat dalam mencapai tujuan perseroan," jelas Imelda.

Adapun mengenai kinerja PTPN hingga semester I-2021 Holding Perkebunan Nusantara PTPN III menunjukkan perbaikan kinerja.

Direktur Utama PTPN III Mohammad Abdul Ghani menjelaskan, kinerja perusahaan yang membaik terlihat dengan kenaikan laba, penyelesaian restrukturisasi utang senilai Rp41 triliun, dan berhasil diluncurkannya brand ritel premium, "Nusakita".

Dari sisi perbaikan kinerja keuangan ditandai dengan kenaikan laba bersih sebesar 227,81% menjadi Rp 1,45 triliun, setelah dua tahun berturut-turut mengalami kerugian. Selain laba, mengutip kontan.id, pendapatan PTPN mencapai Rp 21,26 triliun atau tumbuh 36,37% (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kinerja keuangan didukung oleh beberapa aspek antara lain restrukturisasi, peningkatan produksi dan produktivitas, serta peningkatan nilai tambah produk melalui hilirisasi.