Setelah uji coba reefer container 1 ton, 2 ton, dan 5 ton ini, berikutnya akan diuji coba untuk ukuran 20 feet dan 40 feet

Karya anak bangsa berupa reefer container ukuran 1 ton, 2 ton, dan 5 ton sudah diujicobakan. Uji coba dari adanya prototipe reefer container ini menjadi titik tolak adanya industri reefer container dalam negeri yang mampu terus meningkatkan dan menjaga mutu dan kualitas produk di sektor kelautan dan perikanan. Adanya keberhasilan dari uji coba ini tidak lupa datang dari kerja sama antara pihak pemerintah, swasta, asosiasi, hingga lembaga pendidikan. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) melalui Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim menjadi pendorong utama adanya program reefer container karya anak bangsa ini.

“Intinya kita mau agar Indonesia ini bisa mandiri. Alat-alat, infrastruktur semua nanti dari dalam negeri, salah satunya melalui reefer container ini. Kita bisa mandiri dan berdaulat di negeri sendiri dan terus melakukan inovasi buatan anak bangsa untuk sektor kelautan dan perikanan. Dukungan sudah banyak berdatangan, jadi ini momentum kita untuk terus berinovasi,” ujar Asisten Deputi (Asdep) Hilirisasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Amalyos Chan dalam kesempatan terpisah (25-09-2021).

Asdep Amalyos menjelaskan bahwa prototipe reefer container ini merupakan kerja sama lintas kementerian dan lembaga. Beberapa kementerian dan lembaga diantaranya, yaitu Kemenko Marves, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), PT Industri Kereta Api (PT INKA), PT Kelola Mina Laut (PT KML), Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB). Dengan adanya berbagai dukungan ini, prototipe dari reefer container mampu untuk diuji coba dengan baik.

Direktur Pengembang PT INKA Agung Sedaju menyatakan bahwa dorongan dari Kemenko Marves sangat kuat agar kita mampu berinovasi terkait reefer container ini. Diharapkan nantinya bisa segera diproduksi secara masif.

“Terima kasih kepada Kemenko Marves yang sudah terus mendorong kami, nantinya dari prototipe ini, kami mau secepatnya produksi secara masif,” katanya.

Dari pihak lembaga pendidikan, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) Prof. Dr. Ir. Maftuch, M.Si menyatakan bahwa akan membantu proses dari pengembangan reefer container ini.

“Riset atau penelitian terkait efektivitas dan efisiensi akan kami terus bantu, selain itu kami juga akan berusaha membantu melakukan sosialisasi kepada nelayan terkait produk ini. Semua ini demi produk yang lebih baik di sektor kelautan dan perikanan kita,” ujarnya.

Selain itu, pihak dari PT KML dan ARPI sebagai salah satu stakeholder juga ikut menyampaikan apresiasi. PT KML sebagai pengguna nantinya berharap dengan adanya reefer container ini, ekspor perikanan mentah seperti tuna mampu terus terjaga mutu dan kualitasnya. “Mempertahankan mutu ini menjadi hal yang sulit di produk kelautan dan perikanan, terutama produk mentah. Itu mengapa adanya reefer container ini menjadi solusi yang tepat,” ujar perwakilan dari PT KML.

Senada dengan PT KML, dari pihak ARPI mengatakan bahwa dengan menggunakan produk dalam negeri, maka cost akan jauh lebih murah. “Selama ini untuk container kita masih banyak impor dan harganya cukup mahal, dengan produksi karya dalam negeri ini, maka kita bisa menekan cost untuk container sambil meningkatkan mutu dan kualitas produk kelautan dan perikanan yang ada,” ujar perwakilan dari ARPI.

Ada beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan dan standarisasi lainnya yang perlu dipenuhi, tetapi ini menjadi langkah awal bagi industri reefer container dalam negeri yang menjanjikan di Indonesia. Kedepannya diharapkan Indonesia bisa memiliki sistem rantai dingin atau cold chain system yang sudah mumpuni. Reefer container ini menjadi salah satu alat dalam meningkatkan mutu dan kualitas perikanan, terutama saat dilakukan pengiriman ke luar negeri melalui ekspor. Produk kelautan dan perikanan mampu bertahan lama, karena adanya pendingin di dalam reefer container ini.

Setelah uji coba reefer container 1 ton, 2 ton, dan 5 ton ini, berikutnya akan diuji coba untuk ukuran 20 feet dan 40 feet.