Belakangan muncul sebuah petisi yang menuntut proses hukum terhadap Rachel Vennya. "Segera proses hukum bagi Rachel Vennya berani kabur dari karantina," bunyi petisi tersebut.

Belakangan muncul sebuah petisi yang menuntut proses hukum terhadap Rachel Vennya. Petisi itu merupakan reaksi atas sikap Rachel yang kabur saat karantina di Wisma Atlet.

"Segera proses hukum bagi Rachel Vennya berani kabur dari karantina," bunyi petisi tersebut.

Petisi itu telah ditandatangi lebih dari 11.000 orang hingga Rabu (20/10/21) siang. Target awal petisi tersebut adalah 15.000 tandatangan.

Petisi dibuat oleh Na*****vie. Dalam keterangannya, dia menghimbau tiap warga negara Indonesia harus patuh pada hukum.

"Jika Anda melanggarnya maka Anda harus bertanggung jawab!" sambungnya.

Mereka yang sudah menandatangani petisi menilai bahwa permintaan maaf Rachel tidak cukup. Rachel tetap harus diminta bertanggung jawab secara hukum atas perbuatannya.

Dwi Novi salah satu peneken petisi tersebut mencotohkan dirinya yang rela tak bertemu bayinya karena dia positif Covid-19. Meski berat dipisahkan selama 14 hari, dia tetap ikuti aturan tersebut.

Apa yang diungkapkannya ini untuk menanggapi Rachel yang memakai alasan kangen anak untuk kabur dari karantina.

"Apakah kamu pikir aku nggak kangen anakku Rachel? Kamu egois banget!!" tulis Dwi.

"Buna berhak dipenjara" timpal Nurul.

Sebelumnya, Kepala Penerangan Kodam Jaya Kolonel Arh Herwin BS mengungkapkan, ada seorang prajurit TNI yang membantu Rachel Vennya kabur dari karantina. Prajurit berinisial FS tersebut kini sudah dinonaktifkan.

Sementara itu, Polda Metro Jaya juga berencana memanggil Rachel Vennya untuk klarifikasi kaburnya dia dari karantina pada Kamis (21/10/21).

Rachel terancam Undang-Undang Wabah Penyakit Menular dan UU Kekarantinaan Kesehatan dengan masing-masing ancaman hukumannya satu tahun penjara.