Di kalangan pengusaha kelapa sawit, nama Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam mungkin tak asing. Apalagi, pabrik sawitnya di Kalimantan Selatan baru saja diresmikan orang nomkor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tentu saja, Haji Isam bukanlah pengusaha ecek-ecek. Di Kalsel, nama Haji Isam cukup kondang sebagai raja bisnis sawit dan tambang batubara. Nisa jadi, dia memiliki konsesi lahan ratusan atau bahkan ribuan hektar.

Dikenal sebagai pemilik PT Jhonlin Group, Haji Isam masuk jajaran orang kaya di Indonesia. Hanya saja kiprah bisnisnya tak banyak yang tahu secara detil.

Alhasil, ketika Presiden Jokowi meresmikan pabrik sawitnya berlokasi di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Kamis (21/10/2021), kalangan pengusaha sawit terkejut. Pembuktian bahwa Haji Isam bukanlah orang sembarangan.

Dalam acara peresmian, Presiden Jokowi mengapresiasi langkah yang dilakukan Jhonlin Group. Kata Jokowi, Indonesia tidak boleh hanya menjadi eksportir sawit mentah, melainkan harus mengolahnya lebih jauh.

"Hilirasi, industrialisasi, harus dilakukan dan harus kita paksa untuk dilakukan. Sebab itu, saya sangat menghargai yang telah dilakukan oleh PT Jhonlin Group membangun pabrik biodiesel," terang Jokowi, dikutip dari CNNIndonesia.com.

Dikutip dari berbagai sumber, Haji Isam merupakan pengusaha pemilik PT Jhonlin Group (JG) yang bergerak di berbagai bidang mulai dari pertambangan, layanan pelabuhan, transportasi udara, hingga manufaktur.

Perusahaan induk ini menaungi beberapa anak perusahaan seperti PT Jhonlin Baratama, PT Jhonlin Marine and Shipping, PT Jhonlin Air Transport, PT Jhonlin Agromandiri, hingga PT Jhonlin Batu Mandiri.

Persoalannya, pria tajir melintir ini tersangkut kasus hukum serius yakni dugaan pengondisian pajak dan kasus menjanjikan uang miliaran rupiah ke Angin Prayitno. Ceritanya, awal Oktober, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mendalami dugaan peran Haji Isam terkait pengondisian nilai pajak PT Jhonlin Baratama pada 2016 hingga 2017.

Masalah ini mencuat setelah dugaan suap pajak Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani muncul di persidangan. Melalui Berita Acara Pengadilan (BAP) terungkap bahwa dalam pertemuan antara tim pemeriksa pajak dengan konsultan PT Jhonlin Baratama Agus Susetyo ada permintaan pengondisian pajak perusahaan sebesar Rp10,68 miliar.

Tak hanya itu, PT Jhonlin Baratama disebut mantan pejabat Direktorat Jenderal Pajak Angin Prayitno Aji akan memberikan uang sebanyak Rp50 miliar agar kewajiban pajak perusahaan direkayasa.

Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan tersebut seharusnya membayar pajak sebesar Rp63,66 miliar. Namun, setelah melalui negosiasi dengan pejabat perpajakan Yulmanizar, pajak perusahaan yang dibayarkan hanya sebesar Rp10,68 miliar.