Hari-hari ini, kalangan buruh se-Indonesia harus menahan kecewa. Lantaran upah mereka hanya naik secuil yakni di bawah 1,09 persen pada 2022. Sementara, harga-harga keburuhan hidup sudah melambung tinggi.

Atas minimnya kenaikan upah ini, staf khusus Menteri Ketenagakerjaan, Dita Indah Sari yang dulunya dikenal sebagai aktivis buruh, mengatakan, Upah Minimum (UM) di Indonesia saat ini, terlalu tinggi. Jika dikomparasi atau dibandingkan dengan nilai produktivitas tenaga kerja.

Kalau diukur, nilai efektivitas pekerja di Indonesia berada di urutan ke-13 Asia. Dijelaskan, kebijakan pengupahan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan, dimaksudkan untuk mendorong peningkatan produktivitas pekerja Indonesia. Sehingga, diharapkan upah menjadi pembanding yang adil terhadap nilai produktivitas. "Baik jam kerjanya, maupun tenaga kerjanya, ini umum secara nasional. Komparasinya ketinggian itu dengan produktivitas," kata dia di Jakarta, dikutip Minggu (21/11/2021).

Dikatakan Dita, dari sisi jam kerja saja, buruh di Indonesia terlalu banyak libur. Bandingkan dengan negara Asia Tenggara, jumlah hari libur di Indonesia masih terlalu banyak. "Dari segi jam kerja dan jumlah libur kita ini gede, banyak," ujar Dita.

Semisal, jam kerja pekerja di Thailand lebih tinggi ketimbang Indonesia di tiap minggu. Di Thailand, seminggu kerja mencapai 42 sampai 44 jam. Sementara di Indonesia masih di bawahnya yakni 40 jam.

Sementara untuk hari libur, di Indonesia dalam setahun bisa mencapai 20 hari libur. Belum lagi beragam cuti. Sedangkan di Thailand, tidak lebih 15 hari libur dalam setahun.

Dengan semakin sedikitnya jam kerja, output atau hasil kerja yang dilakukan tenaga kerja di Indonesia pun menjadi sedikit. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap nilai produktivitas yang rendah.

Dita menambahkan, produktivitas Indonesia pun masih kalah dari Thailand. Di mana Thailand poinnya mencapai 30,9 sedangkan Indonesia hanya 23,9.

Adapun dari sisi upah, upah minimum di Indonesia justru lebih tinggi dari Thailand. Di Thailand dengan nilai produktivitas 30,9 poin upah minimumnya mencapai Rp 4.104.475, upah minimum tersebut diberlakukan di Phuket.

Sementara itu di Indonesia, dengan upah minimum di Jakarta mencapai Rp 4.453.724, nilai produktivitasnya cuma mencapai 23,9 poin saja. “Komparasinya itu di situ, karena nilai jam kerja jadi lebih sedikit, makanya upah itu ketinggian nggak sesuai dengan produktivitas jam kerja dan efektivitas tenaga kerja,” paparnya.