Penyelidikan  dihentikan karena kesimpulan SDCOM menyatakan data kerugian yang diserahkan industri domestik tidak terbukti dan mengandung banyak kesalahan

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyambut baik keputusan The Undersecretary of Commercial Defense    and Public Interest (SDCOM) Brasil yang menghentikan penyelidikananti-dumping atas impor Cold Rolled Stainless Steel(CRSS), yang salah satunya berasal dari Indonesia.

Keputusan tersebut tertuang dalam rilis SDCOM yang dikeluarkan pada 4 November 2021. Penyelidikan  dihentikan karena kesimpulan SDCOM menyatakan data kerugian yang diserahkan industri domestik tidak terbukti dan mengandung banyak kesalahan. 

Sebelumnya, penyelidikan anti-dumping CRSS oleh  Brasil telah berjalan selama delapan bulan sejak  24 Februari 2021 hingga resmi diterminasi. Hal ini  merupakan kabar baik bagi industri baja tahan karat (stainless steel) Indonesia di penghujung 2021.

“Kami menyambut baik keputusan SDCOM  menghentikan  anti-dumping CRSS asal Indonesia. Sebagai otoritas  penyelidik, SDCOM telah mengambil keputusan yang  tepat. Jika ada keraguan terkait kerugian industri  domestik, maka otoritas harus segera menghentikan  penyelidikan trade remedy, termasuk dumping,” ungkap Mendag Lutfi.

Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari  Wisnu Wardhana menjelaskan, untuk mengenakan bea  masuk anti-dumping, sebuah penyelidikan dumping harus  mampu memenuhi tiga unsur sebagaimana ditetapkan  dalam WTO Anti-Dumping Agreement.  

Tiga unsur tersebut yaitu adanya impor dumping, keadaan kerugian industri domestik, dan hubungan kausalitas antara keduanya. Jika salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak terpenuhi, maka pengenaan bea masuk anti-dumping tidak dibenarkan.

“Dalam hal ini, unsur kerugian industri CRSS Brasil diragukan kebenarannya. Sehingga, hubungan kausalitas tidak dapat dibangun dan penyelidikan tidak layak dilanjutkan,” tegas Wisnu.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020, ekspor CRSS Indonesia ke Brasil tercatat USD  1,1  juta  atau  menurun  dibandingkan tahun sebelumnya.  Brasil bukan merupakan negara tujuan terbesar eskpor  CRSS Indonesia.  

Pangsa  ekspor  Brasil  pada  2020  hanya  0,17  persen  dari total  ekspor  CRSS  Indonesia  ke  dunia,  yaitu  sebesarUSD  601  juta.  Selama  Januari—September 2021, Indonesia tercatat tidak melakukan ekspor CRSS ke Brasil. Namun, akses pasar ekspor tetap dipelihara karena Brasil merupakan salah satu pasar alternatif bagi ekspor CRSS Indonesia.

Wisnu menambahkan, pemerintah Indonesia masih harus waspada. Sebab, otoritas yang sama masih melakukan  penyelidikan trade  remedylain  atas  produk  yang  sama  dari  Indonesia,  yaitu penyelidikan anti-subsidi yang berjalan paralel.

Direktur Pengamanan Perdagangan Natan Kambuno mengatakan, keberhasilan Indonesia ini tidak lepas dari   dukungan para pemangku kepentingan, khususnya para produsen dan eksportir Indonesia. 

“Kami mengapresiasi sikap kooperatif para  produsen dan eksportir Indonesia dalam penyelidikan anti-dumping  CRSS ini. Sehingga, hasil yang baik berpihak pada Indonesia,” kata Natan.