Anehnya, melonjaknya kasus COVID-19 di Eropa memburuk meskipun tingkat vaksinasi negara-negara di Benua Biru itu tergolong tinggi, yakni di atas 50 persen.

Eropa kembali menjadi episentrum pandemi dunia. Benua Biru menyumbang lebih dari setengah dari rata-rata kasus tujuh harian secara global dan sekitar setengah dari kematian terbaru. Kebanyakan negara Eropa mengalami gelombang ke-4 dan gelombang ke-5 COVID-19.

Direktur WHO Zona Eropa, Dr Hans Kluge pada pertengahan pekan lalu telah meningatkan bahwa 500 ribu nyawa di Eropa akan terancam akibat COVID-19, bila negara-negara di benua itu tidak mengambil langkah pengetatan serius. 

"COVID-19 sekali lagi menjadi penyebab kematian nomor satu di wilayah kami. Kami tahu apa yang perlu dilakukan untuk melawan penyakit ini," kata Kluge, kepada BBC.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa lonjakan Eropa ini terjadi akibat pembukaan total yang sebelumnya diterapkan sementara angka vaksinasi belum mencapai target.

"Ini adalah pengingat lain, seperti yang telah kami katakan berulang kali, bahwa vaksin tidak menggantikan kebutuhan akan tindakan pencegahan lainnya", kata Tedros, Rabu (17/11) pekan lalu.

"Vaksin mengurangi risiko rawat inap, penyakit parah, dan kematian, tetapi tidak sepenuhnya mencegah penularan," katanya.

Austria menjadi negara Eropa pertama yang kembali berlakukan lockdown total pada Senin (22/11) kemarin akibat peningkatan kasus COVID-19. Austria pada Minggu (21/11) melaporkan, 15.809 kasus dalam sepekan terakhir. 

Selain lockdown total, Austria juga akan memvaksinasi seluruh penduduk mulai 1 Februari 2022. "Kami tidak menginginkan gelombang kelima," kata Kanselir Alexander Schallenberg, mengutip BBC.

Secara rinci, kurva kasus per negara Eropa telah menunjukkan lonjakan data yang signifikan bila dibandingkan dengan pada awal Oktober lalu.

Dari data yang dikeluarkan John Hopkins University per November, rata-rata kasus harian dalam 7 hari terakhir di Belanda mencapai 21. 026 kasus.

Jumlah itu jauh dari pada awal Oktober lalu yang mencatatkan hanya 1.800 hingga 2.000 kasus.

Sementara di Jerman, kenaikan serupa juga terjadi. Rata-rata kasus harian dalam 7 hari terakhir di Negara Sungai Rhein itu mencapai 49. 206 kasus. Angka itu jauh di atas level 7 ribu pada awal Oktober.

Menteri Kesehatan Jens Spahn menyebut bahwa Berlin saat ini sedang berhati-hati mengingat angka infeksi harian yang sempat tembus 50 ribu perharinya.

"Kami sekarang berada dalam situasi mana kami tidak dapat mengesampingkan apa pun. Kami berada dalam keadaan darurat nasional," katanya dalam konferensi pers.

Italia telah mencatat total 133.177 kematian terkait dengan COVID-19 sejak wabahnya muncul pada Februari 2020. Jumlah itu merupakan jumlah korban jiwa tertinggi kedua akibat COVID-19 di Eropa setelah Inggris dan tertinggi kesembilan di dunia. Negeri Pizza itu hingga saat ini telah melaporkan 4,9 juta kasus COVID-19.

Sementara dikutip dari worldometers, hingga kini Rusia mencatat total kasus COVID-19 sebanyak 9.331.158. Laporan terakhir pada Minggu (21/11/2021), Rusia mencatat kasus baru harian COVID-19 sebanyak 36.970 dengan total kematian akibat COVID-19 sebanyak 1.252.

Dengan total kematian akibat COVID-19 tembus 264 ribu, Rusia disebut-sebut sebagai negara paling terpukul di Eropa.

Sedangkan Prancis mencatat tambahan 20.000 infeksi virus Corona kemarin, yang merupakan rekor tertinggi sejak 25 Agustus. Kementerian Kesehatan melaporkan 20.294 kasus baru yang menjadikan total kasus saat ini menjadi 7.33 juta.

Tingkat kasus per minggu di Prancis, jumlah kasus baru per minggu per 100.000 orang, juga naik menjadi 129.

Anehnya, melonjaknya kasus COVID-19 di Eropa memburuk meskipun tingkat vaksinasi negara-negara di Benua Biru itu tergolong tinggi, yakni di atas 50 persen. Hanya Rusia yang mempunyai angka vaksinasi rendah, yakni sebesar 36,5 persen seperti data yang dikeluarkan John Hopkins University.

Di Indonesia, kasus positif COVID-19 masih mengalami peningkatan meski pandemi sudah melandai. Dari data Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pada Minggu (21/11), tercatat ada penambahan 314 orang terpapar virus corona.

Dengan jumlah tersebut, total akumulatif kasus COVID-19 di Indonesia mencapai 4.253.412 sejak virus corona terdeteksi pada bulan Maret 2020.

Pemerintah juga terus menggencarkan target vaksinasi masyarakat Indonesia sebanyak 208.265.720 .

Pada vaksinasi ke-1, ada penambahan 393.277 orang yang sudah di vaksin. Sehingga, saat ini total akumulatif vaksinasi ke-1 mencapai 134.418.286 orang.

Sedangkan, pada vaksinasi ke-2, ada penambahan 460.144 orang yang sudah di vaksin. Sehingga, saat ini total akumulatif vaksinasi ke-2 mencapai 89.220.341 orang.

Sementara, tidak ada penambahan pada pada vaksinasi ke-3 pada hari ini. Sehingga, saat ini total akumulatif vaksinasi ke-3 mencapai 1.203.846 orang sama seperti Sabtu (20/11) kemarin.

Meski kasus corona sudah melandai, pemerintah terus mengingatkan masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan demi mencegah penularan COVID-19. Masyarakat diminta berdisiplin memakai masker, rajin mencuci tangan memakai sabun, dan menjaga jarak.