PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mencatatkan keuntungan investasi (capital gain) sebesar Rp 350 miliar dari investasinya di PT Gojek Indonesia dalam periode November 2020 - Mei 2021.

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mencatatkan keuntungan investasi (capital gain) sebesar Rp 350 miliar dari investasinya di PT Gojek Indonesia dalam periode November 2020 - Mei 2021.

Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk itu pada November 2020, Telkomsel menyuntikkan dana ke Gojek sebesar 150 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,1 triliun. Kemudian, pada Mei 2021, operator telekomunikasi ini kembali mengalirkan dana investasi sebesar 300 juta dolar AS atau sekitar Rp 4,2 triliun.

Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Adriansyah mengatakan, investasi ini telah memperkuat inisiatif strategis kedua perusahaan dalam memberi manfaat baru bagi penggunanya, serta mendukung percepatan digitalisasi di sektor Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM). 

Dari sisi pertumbuhan bisnis, menurut Ririek, investasi di Gojek juga memperlihatkan hasil yang positif jika dilihat dari pertumbuhan kuartal III 2021 dibandingkan dengan kuartal I/2021. Salah satunya, pendapatan rata-rata per pengguna atau average revenue per user (ARPU) pengendara yang menjadi pengguna paket kolaborasi swadaya meningkat sebanyak 4%.

Pengendara Gojek yang menjadi penjual kembali (reseller) Telkomsel tumbuh 51 persen, diikuti dengan kenaikan jumlah transaksi sebesar 97 persen, dan pertumbuhan merchant GoFood yang menggunakan MyAds melalui aplikasi Gobiz naik sebesar 146 persen.

"Sehingga selain memberikan dampak di masyarakat, juga berkontribusi positif pada pertumbuhan bisnis Telkomsel," kata Ririek dalam keterangan tertulis dikutip Kamis (25/11).

Tak hanya menjalin kemitraan strategis untuk meningkatkan kapabilitas digital perusahaan, Telkom melalui perusahaan ventura MDI juga konsisten menambah nilai dan jumlah investasi pada sejumlah perusahaan rintisan (start up) potensial, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menurut dia, trategi investasi pada start up yang dilakukan perseroan tidak hanya fokus pada peningkatan nilai investasi, tetapi juga dari peluang kolaborasi yang berpotensi dilakukan terhadap berbagai lini bisnis di Grup Telkom. Pada akhirnya, ini bertujuan untuk membangun sinergi dalam meningkatkan bisnis dan profitabilitas perusahaan.

Sampai saat ini, MDI telah mendanai lebih dari 50 start up dari 12 negara. Sebanyak 28 perusahaan di antaranya merupakan karya anak bangsa. Di dalam portofolio MDI, tercatat ada tiga perusahaan rintisan yang mencatatkan sahamnya di lantai bursa, dan tiga perusahaan masuk dalam kategori unicorn.

Sampai kuartal III 2021, perseroan telah menggunakan belanja modal sebesar Rp 18,6 triliun, atau 17,5 persen dari total pendapatan. Belanja modal terutama digunakan untuk memperkuat infrastruktur jaringan dan pendukung untuk meningkatkan kapasitas, baik pada jaringan tetap (fixed line) maupun bisnis mobile.

Berdasarkan laporan keuangan, Telkom membukukan laba bersih Rp 18,87 triliun hingga kuartal III 2021. Perolehan tersebut tumbuh 13,15 persen dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 16,67 triliun.

Pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2021, laba bersih tersebut sejalan dengan pendapatan Rp 106,04 triliun, tumbuh 6,11 persen dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 99,94 triliun.

Mayoritas pendapatan Telkom masih berasal dari bisnis data, internet, dan jasa teknologi informatika dengan total Rp 60,24 triliun per September 2021. Pendapatan tersebut tumbuh 6,72 % dibanding periode sama tahun lalu Rp 56,45 triliun.

Penyokong lain pada pendapatan Telkom berasal dari bisnis Indihome senilai Rp 19,63 triliun dalam sembilan bulan awal 2021. Pendapatan dari bisnis Indihome ini tumbuh signifikan 21,88 persen dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 16,11 triliun.

Bisnis lain yang menyumbang pendapatan bagi Telkom adalah pembayaran telepon senilai Rp 12,75 triliun. Meski begitu, bisnis ini kian tenggelam karena pendapatannya turun 15,74 persen dibanding periode sama tahun lalu Rp 15,13 triliun.

Total pendapatan yang naik ini diiringi oleh sejumlah biaya dan beban yang juga membesar. Sebagai contoh yakni beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi yang menggerus profitabilitas Rp 26,97 triliun. Beban ini naik 7,49 persen dibandingkan Rp 25,09 triliun secara tahunan.

Sejumlah beban seperti penyusutan dan amortisasi, beban karyawan, dan beban interkoneksi pun naik. Meski begitu, laba usaha Telkom Rp 36,3 triliun per September 2021 masih tumbuh 7,49 persen dibanding Rp 25,09 triliun pada periode sama tahun lalu.

Telkom mencatatkan jumlah aset Rp 246,5 triliun per September 2021 yang terdiri dari aset lancar Rp 40,86 triliun dan aset tidak lancar Rp 205,63 triliun. Sayangnya, total aset Telkom tersebut turun dibandingkan per Desember 2020 senilai Rp 246,94 triliun.

Telkom juga catatkan jumlah liabilitas Rp 127,68 triliun per September 2021, terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 68,36 triliun dan jangka panjang Rp 59,32 triliun. Liabilitas ini naik dibandingkan per Desember 2020 Rp 126,05 triliun.