India melaporkan 168.063 kasus baru COVID-19 pada Selasa (11/1), lonjakan 20 kali lipat dalam sebulan terakhir

Satu juta umat Hindu akan berkumpul di tepi Sungai Gangga pada Jumat (14/01) dan Sabtu (15/01) mendatang untuk lakukan ritual mandi suci, meskipun India sedang mengalami lonjakan kasus COVID-19.

India melaporkan 168.063 kasus baru COVID-19 pada Selasa (11/1), lonjakan 20 kali lipat dalam sebulan terakhir. Meskipun demikian, sebagian besar peziarah nyatanya tidak begitu menghiraukan bahaya penularan ini.

Ritual keagamaan yang dinamakan Gangasagar Mela kerap diadakan setiap tanggal 14 Januari. Para peziarah mengunjungi desa Gangasagar untuk mandi bersama di pertemuan Sungai Gangga dan Teluk Benggala.

Mereka percaya melakukan hal tersebut dapat menghapus dosa-dosa mereka dan dosa-dosa nenek moyang mereka.

Sebanyak puluhan ribu peziarah dikabarkan telah tiba di sebuah pulau di negara bagian timur Bengal Barat untuk melaksanakan ritual mandi di Sungai Gangga. Daerah itu sendiri menjadi episentrum kasus COVID-19 terbanyak di India saat ini setelah negara bagian Maharashtra.

"Kerumunan dapat membengkak antara 800.000 hingga satu juta orang. Kami berusaha menerapkan semua protokol COVID-19," ujar Bankim Chandra Hazra, seorang menteri utama Benggala Barat yang bertanggung jawab menyelenggarakan festival yang dikenal sebagai Gangasagar Mela, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/01).

"Kami juga telah mengatur percikan air suci dari drone sehingga tidak ada kerumunan, tetapi para sadhus (orang suci Hindu) bertekad untuk berenang. Kami tidak dapat mencegahnya."

Sebuah festival keagamaan besar serupa Gangasagar Mela, Kumbh Mela, juga berlangsung di utara India pada tahun lalu. Upacara itu pun menjadi sumber penyebaran COVID-19 varian Delta dan gelombang virus corona baru di India.

Menanggapi permohonan dari dokter yang khawatir festival tersebut bisa menjadi momen penularan COVID-19 cepat, Pengadilan Tinggi Calcutta pun memutuskan pada Selasa bahwa semua peziarah harus melakukan tes COVID-19.

Tak begitu jelas berapa banyak peziarah yang akan dites atau apakah keputusan tersebut benar akan dilaksanakan.

Dokter sendiri telah mengajukan banding ke pengadilan untuk membatalkan keputusan yang mengizinkan diadakannya festival tersebut tahun ini. Bhramar Mukherjee, profesor epidemiologi di University of Michigan, mengatakan perkumpulan tersebut bisa berisiko menjadi 'bencana' bagi masyarakat.