Tak puas dengan itu, Zhao mencium peluang bisnis besar di dunia kripto hingga mendirikan Binance di tahun 2017

Chief Executive Officer (CEO) Binance, Changpeng Zhao bisa jadi adalah orang yang mendadak kaya raya dalam waktu singkat. Bisnis penukaran uang kripto menjadikan Changpeng Zhao tajir melintir dalam waktu kurang dari lima tahu. 

Bahkan, saat ini namanya masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Dalam perhitungan terkini yang dipublikasikan oleh Bloomberg Billionaires Index, harta Zhao diestimasi telah menembus USD 96 miliar atau lebih dari Rp 1.370 triliun.

Kekayaan Zhao pada saat ini sudah menyaingi pendiri Oracle, Larry Ellison, dan melampaui beberapa nama besar seperti konglomerat asal India, Mukesh Ambani.

Mereka yang berkecimpung di bisnis kripto memang makin kaya seiring nilai yang terus melonjak. Sebut saja pencipta Ethereum Vitaloik Buterin dan pendiri Coinbaes Brian Armstrong, keduanya telah menjadi miliarder dalam hitungan dolar Amerika Serikat.

Lalu, siapa yang menyangka, meseki kekayaannya melonjak secara drastis, Zhao tetaplh sosok rendah hati.

"Jangan cemas soal ranking. Fokus kepada seberapa banyak orang yang bisa kamu bantu," tulisnya di Twitter.

Ia kemudian berkicau lagi. "Opini tidak populer, ketimbang ranking siapa terkaya, seharusnya ada pula ranking untuk upaya amal dan filantrofi," demikian tulis Changpeng Zhao.

Juru bicara Binance menyebut bahwa CZ memang ingin menyumbangkan sebagian besar hartanya untuk aksi kemanusiaan. Bahkan ia berniat memberikan sampai 99% dari total kekayannya.

Lelaki yang bermukim di Singapura ini lahir di China tapi kemudian berkewarganegaraan Kanada. Bagaimana kisahnya yang inspiratif dalam membangun dan membesarkan Binance?

Dikutip dari Vulcan Post, Kamis (13/01/2022) Zhao besar di Jiangsu, kedua orangtuanya adalah guru. Ketika beranjak remaja, Zhao sempat bekerja di McDonald's sebagai pemasak burger dan tugas lainnya. Pada malam hari, dia bekerja di pom bensin.

Pada akhir 1980-an, Zhao dan keluarganya pindah ke Kanada. Ayahnya yang seorang profesor diasingkan karena bermasalah dengan negaranya. Changpeng Zhao kemudian kuliah di MacGill University di Kota Montreal jurusan Ilmu Komputer.

Dia kemudian bekerja mengembangkan sistem perdagangan di bursa saham Tokyo di mana karirnya cepat menanjak. Namun pada tahun 2005, Zhao memutuskan keluar, pindah ke Shanghai, dan mendirikan perusahaan keuangan bernama Fusion Systems.

Tak puas dengan itu, Zhao mencium peluang bisnis besar di dunia kripto hingga mendirikan Binance di tahun 2017. Platform Binance bisa digunakan untuk memperdagangkan mata uang kripto ataupun untuk menyimpannya.

Binance juga punya uang kripto sendiri bernama BNB, terbesar ketiga di dunia dengan kapitalisasi pasar USD 54 miliar. Pada 2017 itu, Binance mengumpulkan pendanaan USD 15 juta dan mereka cepat berkembang. Pada tahun berikutnya, penggunanya mencapai 6 juta user.

Zhao dan Binance makin terkenal. Tahun 2020, Binance memperoleh pendapatan USD 800 juta dan volume total perdagangan tembus USD 2 triliun.

Zhao punya tato Binance di lengannya. Saking fanatik dengan bisnis kripto, dia mengklaim menginvestasikan seluruh uangnya dalam bentuk mata uang kripto.

"Barang-barang fisik yang aku punya mungkin tak ada artinya dibandingkan kekayaanku. Aku tidak menggunakan mata uang kripto untuk beli mobil, beli rumah. Aku hanya ingin menyimpannya. Aku tak berencana menukarnya menjadi uang di masa depan," klaimnya.

Ya, dia mengaku hidup biasa-biasa saja. Dalam wawancara dengan Forbes di 2018, Zhang menyatakan tak punya kendaraan, jam mewah atau kapal pesiar. Tapi ia kadang memborong laptop, kadang enam unit sekaligus karena ia sering merusaknya.