PT Karya Citra Nusantara (KCN) mengungkapkan kehadiran Pelabuhan Marunda untuk mendukung dan membantu Pelabuhan Tanjung Priok karena merupakan bagian dari Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Tanjung Priok.

PT Karya Citra Nusantara (KCN) mengungkapkan kehadiran Pelabuhan Marunda untuk mendukung dan membantu Pelabuhan Tanjung Priok karena merupakan bagian dari Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Tanjung Priok.

"Pelabuhan Marunda bagian dari RIP Tanjung Priok yang merupakan pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok," kata Direktur KCN Widodo Setiadi dalam satu kesempatan di Jakarta.

Dengan demikian, menurut Widodo, Pelabuhan Marunda harus mendukung Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan internasional dan tidak boleh menyaingi Pelabuhan Tanjung Priok.

Pemerintah menjadikan solusi alternatif di mana Pelabuhan Marunda sebagai pelabuhan curah. Dengan demikian pelimpahan dari Pelabuhan Tanjung Priok harus ditampung oleh Pelabuhan Marunda.

"Walaupun izin badan usaha pelabuhan kita adalah pelabuhan umum, cuma dalam praktiknya kita sudah digariskan oleh pemerintah harus mendukung (Tanjung Priok)," kata Widodo.

Direktur KCN tersebut mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo sangat memperhatikan aspek waktu bongkar muat atau dwelling time Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan adanya keterlambatan pada aspek itu maka proses bongkar muat Pelabuhan Tanjung Priok dapat dipindahkan ke Pelabuhan Marunda, sehingga dwelling time dapat dipercepat.

"Pelabuhan Marunda pada intinya memiliki peran sebagai pelabuhan yang membantu untuk mengurangi beban Pelabuhan Tanjung Priok," ujar Widodo.

Rencana Induk Pelabuhan (RIP) Tanjung Priok

Perusahaan operator pelabuhan KCN mengklaim bahwa Pelabuhan Marunda di Jakarta Utara telah mengurangi beban Pelabuhan Tanjung Priok dari penanganan curah karena menyelesaikan pembangunan Dermaga 1 pada tahun 2018.

“Setidaknya 30 persen [dari beban Pelabuhan Tanjung Priok] telah berkurang,” ujar Widodo. 

Dia mengatakan bahwa Dermaga 1, dengan luas 42 hektar, dapat menangani sekitar 12 juta ton curah per tahun.

Selain itu, KCN sekarang membangun dermaga 2 dan 3, diharapkan akan selesai antara 2022 dan 2023, yang akan mencakup total luas 100 hektar dan memiliki panjang gabungan 5.350 meter.

Setelah konstruksi selesai, Pelabuhan Marunda diperkirakan akan menangani sekitar 30 juta hingga 35 juta ton curah per tahun dan dapat dilabuhi sekitar 50 kapal, tambah Widodo.

Perusahaan ini telah mengalokasikan sekitar Rp5 triliun menjadi Rp9 triliun untuk membangun tiga dermaga. Pembangunan dermaga 1 saja memakan biaya sekitar Rp 3 triliun, kata Widodo.

Pelabuhan Marunda dibangun untuk menjadi pelabuhan pendukung untuk kelebihan kapasitas Pelabuhan Tanjung Priok dan direncanakan untuk menangani bahan curah.

Meskipun dimasukkan sebagai salah satu proyek strategis nasional, dana pembangunan pelabuhan semata-mata berasal dari KCN itu sendiri dan bukan dari anggaran negara.

"Sekitar 40 persen berasal dari pendanaan internal dan 60 persen lainnya berasal dari pinjaman bank," pungkas Widodo.