pernyataan Arteria tersebut tidak bisa dituntut. Pasalnya, anggota dewan memiliki hak imunitas.

Sekretaris Fraksi PDIP DPR RI, Bambang Wuryanto merespons kritik Arteria Dahlan yang meminta Kajati berbicara bahasa Sunda saat rapat dipecat.

Menurutnya, pernyataan Arteria tersebut tidak bisa dituntut. Pasalnya, anggota dewan memiliki hak imunitas.

"Di ruang sidang rapat itu setiap anggota Dewan punya hak imunitas. Jadi yang jadi omongan tidak dituntut oleh siapa pun. Sejauh itu paling kritik, tapi dihukum nggak bisa, karena itu hak imunitas," kata Bambang kepada wartawan Rabu kemarin.

Meski demikian Bambang Pacul, sapaan akrabnya, juga mengatakan, kritikan Arteria hingga meminta kajati dipecat berlebihan.

"Lah ini dikritik sampai melepas masa jabatan menurut saya kelebihan. Walaupun dia punya hak seperti itu sebagai pimpinan saya menganggap itu kelebihan," ujarnya.

Sebab dia berpandangan tidak ada masalah Kajati berbicara bahasa Sunda saat rapat.

"Ini kan sesungguhnya Pak Kajati sedikit pakai bahasa Sunda untuk tunjukkan kedekatan dengan Pak Jaksa Agung yang juga dari Sunda. Nah, ini tergantung kita cara mandangnya. Itu pesan Pak Kajati mengakrabkan," katanya.

Sebelumnya, Arteria disorot soal permintaanya kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk mencopot seorang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang berbicara menggunakan bahasa Sunda dalam rapat.

Hal ini diutarakan Arteria dalam rapat kerja Komisi III DPR denga Kejaksaan Agung kemarin, Senin (17/01) lalu.

Peristiwa itu bermula saat Arteria menyatakan harapannya agar Kejaksaan Agung (Kejagung) bersikap profesional dalam bertugas.

"Saya minta betul kita profesional, saya sama Pak JA (Jaksa Agung) ini luar biasa sayangnya Pak," kata Arteria.

Tiba-tiba saja, dia mengungkapkan adanya Kajati yang berbahasa Sunda ketika rapat.

Padahal, menurut Arteria, seorang Kajati haruslah berbahasa Indonesia ketika rapat.

"Ada kritik sedikit Pak JA, ada Kajati Pak dalam rapat, dalam raker itu ngomong pakai bahasa Sunda, ganti Pak itu," pinta Arteria.

Hal itu dinilai harus menjadi pertimbangan bagi Jaksa Agung untuk mengganti Kajati yang dimaksud.

Dalam memimpin rapat, seorang Kajati dinilai Arteria perlu menggunakan bahasa Indonesia agar tidak menimbulkan salah persepsi orang yang mendengarnya.

"Kita ini Indonesia Pak. Nanti orang takut, kalau pakai bahasa Sunda ini orang takut, ngomong apa, sebagainya. Kami mohon yang seperti ini dilakukan tindakan tegas," ujarnya.