Tak kunjung putusnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax, membuat Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga geregetan jua.

Hingga berita ini turun, PT Pertamina (Persero) belum menaikkan harga Pertamax di level Rp 9.000 per liter. Padahal, Pertamax adalah BBM nonsubsidi yang harganya bergantung harga dunia.

Saat ini, harga minyak mentah dunia sudah menembus US$130 per barel. Otomatis harga BBM beroktan (RON) 92, seharusnya di level Rp16 ribu-an per liter.

Kementerian ESDM pun sejatinya sudah menghitung harga keekonomian BBM RON 92 setara Pertamax bisa naik hingga Rp 16.000 per liter per April 2022. Perkiraan ini lebih tinggi dari harga keekonomian bulan ini yang ditetapkan Rp14.526 per liter.

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, mengatakan harga keekonomian tersebut menunjukkan harga BBM RON 92 yang layak di seluruh dunia. Dengan begitu, Pertamina seolah-olah mensubsidi pemakai Pertamax yang berjumlah 13 persen dari total konsumen BBM.

"Ini sebenarnya orang-orang kalangan atas yang dia memang memakai mobil mewah. Jadi lucu juga kalau Pertamina sampai mensubsidi mobil mewah tersebut," kata Arya, Jakarta, Selasa (29/3/2022).

Arya menegaskan, sudah seharusnya Pertamina menjual Pertamax mendekati harga keekonomian. Dia menegaskan, penetapan harga tersebut tidak boleh terlalu jauh karena banyak tekanan dari para penyalur BBM RON 92 lainnya.

Kata Arya, para penyalur-penyalur tersebut melihat Pertamina terlalu banting harga. Hal ini menyebabkan adanya persaingan usaha yang kurang sehat antara para penyalur BBM RON 92, yang bahkan sudah menjual di atas Rp 14.000 per liter.

"Sampai mereka katakan, kok Pertamina seperti yayasan sih yang menyumbang mobil-mobil mewah untuk mendapatkan Pertamax murah," tutur dia.

Dengan demikian, anak buah Erick Thohir tersebut pun meminta Pertamina untuk menghitung ulang harga jual BBM Pertamax agar jarak dengan harga keekonomian BBM RON 92 yang diprediksi Kementerian ESDM tidak terlalu jauh.

"Jadi sudah saatnya Pertamina didorong, hitung bener untuk tidak lagi terlalu besar mensubsidi mobil-mobil mewah melalui Pertamax," pungkas Arya.