Adapun hasil voting memutuskan untuk menangguhkan Rusia dari Dewan HAM PBB.

Indonesia abstain saat voting penangguhan status Rusia di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di New York, Kamis (07/04) malam waktu setempat menyusul dugaan pelanggaran HAM di Ukraina. Adapun hasil voting memutuskan untuk menangguhkan Rusia dari Dewan HAM PBB.

Dalam voting yang digelar di Majelis Umum PBB yang beranggotakan 193 negara tersebut, 24 negara menentang dan 58 negara memilih abstain. Menurut situs resmi PBB, Jumat (08/04), Rusia, China, Kuba, Korea Utara, Iran, Suriah, Vietnam, termasuk di antara mereka yang memberikan suara menentang.

Sementara negara-negara yang memilih abstain antara lain; Indonesia, India, Brasil, Afrika Selatan, Meksiko, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Qatar, Kuwait, Irak, Pakistan, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Kamboja.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI (Kemenlu RI) Teuku Faizasyah seperti dikutip kompas.com mengungkap, keputusan Indonesia untuk abstain lantaran menunggu hasil investigasi tim independen terkait dugaan pembantaian yang dilakukan Rusia di Bucha, Ukraina.

"Indonesia abstain karena sependapat dengan prakarsa Sekjen PBB untuk membentuk tim investigasi independen (International Commission of Inquiry, oleh the Human Rights Council) atas kejadian Bucha. Intinya memberi kesempatan tim bekerja dan tidak memberi judgment awal," ujar Faizasyah, Jumat (08/04).

Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Arrmanatha Nasir mengatakan, Penting untuk menerima semua fakta sebelum mengambil tindakan yang mencabut hak-hak sah para anggotanya.

"Selain itu, tindakan Majelis Umum tidak boleh membuat preseden negatif, yang bisa merusak kredibilitas badan ini. Karena alasan inilah kami abstain dalam resolusi tersebut," katanya.

Indonesia, sambung Nasir, tetap teguh menghormati dan melindungi hak asasi manusia bagi semua orang. Prioritas RI sekarang harus menyelamatkan nyawa dan melindungi warga sipil di Ukraina.

"Kami menegaskan kembali seruan kami kepada semua pihak untuk menghentikan permusuhan dan tidak menyia-nyiakan upaya untuk mencapai perdamaian melalui dialog dan diplomasi," kata Nasir.

Hal tersebut, menurutnya, menjadi satu-satunya cara yang bisa mengakhiri penderitaan dan hilangnya nyawa di negara eks Uni Soviet itu.

"Jadi kita harus menghentikan perang. Saya ulangi, kita harus menghentikan perang sekarang. Jika tidak, kita semua akan menderita," tegas dia.